Kamis, 25 Januari 2007

6 Prinsip Pengakuan yang Sehat

Berikut ini adalah 6 prinsip yang akan menolong anda untuk mengakui atau berbagi tentang suatu masalah dengan orang lain secara sehat :

1. Jadilah sensitif
Jangan terlalu membebani pendengar anda. Orang yang sedang menderita atau terluka biasanya terfokus pada diri mereka sendiri. Sakit yang mereka rasakan membuat mereka hanya melihat diri mereka,masalah mereka, dan kebutuhan mereka. Sulit bagi mereka untuk berpikir tentang hal yang lain. Namun penderitaan bukanlah ijin resmi untuk membuat orang lain merasa merasa tidak nyaman, terutama yang berniat untuk membantu. Mereka yang mau menolong kita juga mempunyai kehidupan sendiri, dan kita tidak berhak untuk “membuang” masalah kita kepada mereka setiap kali kita merasakan kebutuhan untuk berbagi.
Ketika anda ingin menceritakan masalah anda kepada orang lain, tanyakanlah bagaimana anda dapat menghormati waktu mereka. Cari tahu kapan waktu yang baik untuk menelepon dan juga sebaliknya. Ketahuilah jadwal orang tersebut sehingga anda dapat meminimalisir kemungkinan mengganggu mereka.

2. Bersikaplah bijaksana
Jadilah peka dalam memilah-milah hal-hal apa saja yang tepat untuk dibicarakan dan mana yang tidak. Hindari topik-topik detil tentang hal-hal yang berhubungan dengan seks, membicarakan kejelekan atau kesalahan orang lain, dan pengulangan cerita yang sama tentang hal-hal yang membuat anda frustasi. Hal-hal ini tidak penting bagi pendengar anda. Sensorlah perkataan anda sebelum anda ditolak oleh orang lain.

3. Jujur
Jangan mengakui kesalahan orang lain saja. Apa yang kita perlu akui adalah hal-hal yang telah kita lakukan, yang berkontribusi terhadap terjadinya suatu masalah. Jika kita mulai berfokus hanya pada perbuatan orang lain, maka terkadang ini akan menjadi kesempatan bagi kita untuk menyalahkan pihak yang mungkin sebenarnya tidak bersalah atau tidak perlu berubah. Jika anda bersikeras bahwa anda adalah korbannya, pengakuan anda akan selalu dangkal, dan pertumbuhan rohani anda akan berada di level yang paling lambat.

4. Sesuaikan harapan anda
Jangan berharap lebih dari apa yang mampu diberikan oleh pendengar. Jika pendengar anda bukan seorang konselor yang terlatih, dia tentu tidak dapat menjadi ahli terapis anda. Bahkan seorang ahli terapis pun bukan seorang pembuat keajaiban. Harapan anda terhadap mereka yang mendengarkan anda sudah seharusnya dibatasi dan realistis, yang artinya anda melihat mereka sebagai pendengar, bukan penyelesai masalah. Pendengar yang merasa bertanggungjawab menyelesaikan masalah orang lain akan mengalami kekeringan emosional.

5. Jangan menyembunyikan emosi anda
Beberapa orang mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaan mereka. Mungkin mereka takut bahwa jika mereka mulai membicarakan perasaan mereka, maka luka mereka akan terbuka kembali. Jadi mereka berusaha keras untuk menyembunyikan emosi mereka. Cara terbaik untuk tidak hanyut dalam perasaan, memang dengan tidak membicarakannya, namun itu tidak akan membuat perasaan itu pergi. Jangan pernah menyembunyikan emosi anda hanya karena anda tidak suka mengekspresikannya.
Jika anda tidak mengakui emosi-emosi yang berhubungan dengan kebenaran, anda gagal untuk membicarakan seluruh kebenarannya. Perasaan atau emosi anda adalah bagian terbesar dari cerita anda. Menyangkal emosi anda, menolak untuk menangis, menyembunyikan kemarahan, tersenyum di balik kesedihan, atau menggertak untuk menutupi ketakutan anda, adalah tindakan yang tidak jujur. Lagipula, emosi-emosi tersebut dapat mengekspresikan kebenaran. Air mata dan kemarahan bukan merupakan tanda dari kelemahan atau tidak rohani. Emosi dan perasaan anda adalah respon yang sangat manusiawi terhadap rasa sakit dan malu. Jangan biarkan keinginan anda untuk selalu tampil kuat, menghalangi anda untuk bersikap jujur.

6. Pertahankan ketergantungan yang sehat
Misalkan ada sepasang sahabat, Cindy dan Linda, yang mempunyai ketergantungan yang tidak sehat. Orang-orang yang bersikap seperti Linda, yang selalu menelepon, meminta nasehat, meminta dukungan emosional yang positif, telah menyandarkan ketergantungannya kepada orang lain, bukan kepada Tuhan. Dan siapapun yang bersikap seperti Cindy, yang mengijinkan orang lain mendominasi waktunya, menunjukkan tanda bahwa dia mengijinkan kebutuhan pribadinya dan masalahnya sendiri tidak terselesaikan, demi usaha untuk menjadi pendengar yang baik.
Ketergantungan sejenis dapat berkembang jika orang yang berhubungan dengan anda mulai menggunakan anda dan masalah anda sebagai suatu hiburan, atau sebagai selingan dalam kehidupan mereka. Beberapa orang terlahir sebagai “penyelamat”. Namun jika motivasi mereka untuk “menyelamatkan” atau menolong tersebut berasal dari kebutuhan untuk memegang kendali atau agar mereka merasa dirinya penting, anda akan menjadi sangat penting bagi mereka.
Jika anda berhubungan dengan seseorang dan anda merasa sedang berada dalam ketergantungan yang tidak sehat, ubahlah sikap anda agar hubungan yang telah terjalin di antara anda dan mereka dapat tetap positif dan saling menghargai satu sama lain.

Senin, 22 Januari 2007

"Aku Berdoa Supaya ...."

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri,sebab memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark-lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 pembalap" kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah di antaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa.

Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata, "Ya, aku siap!". Dor!!! Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil tu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing.

"Ayo..ayo... cepat..cepat, maju..maju", begitu teriak mereka. Ahha...sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai.
Dan...
Mark-lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. "Terima kasih."

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. "Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?" Mark terdiam. "Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan" kata Mark. Ia lalu melanjutkan, "Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongku mengalahkan orang lain, aku, hanya bermohon pada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah."

Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.

Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya.

Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata.

Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah.

Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu ujian tersebut.
Amin....

Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya. Amsal 15:23

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. Amsal 16:24

Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. Amsal 17:27

Kamis, 07 Desember 2006

Ubin dan Patung

Jam 1 dini hari, suasana ruangan musium itu sangat lengang. Berbeda sekali dengan siang hari, ketika ribuan wisatawan, anak sekolah, pelancong datang mengunjungi ruangan musium itu. Datang dari segala pelosok untuk melihat dari dekat untuk mengagumi mahakarya berupa patung marmer yang luar biasa indahnya. Patung berbentuk manusia yang begitu halus buatannya, dengan detail yang sangat sempurna dan tampak begitu hidup.

Tiba-tiba keheningan pagi dipecahkan oleh suara keluhan; "Sungguh tidak adil, ini sungguh tidak adil !" terdengar ubin pualam bicara.

"Mengapa engkau berkata demikian, sahabatku ?" Tanya sang patung pualam.

"Kita berasal dari bukit yang sama, kita juga dibuat oleh pemahat yang sama, tetapi mengapa nasib kita jauh berbeda. Engkau disana tampak begitu indah, dikagumi dan dibicarakan banyak orang, sementara aku, harus menerima nasib sebagai ubin batu disini. Ini tidak adil !" ujar ubin pualam dengan emosi.

"Oh, itu rupanya", kata sang patung. "Ingatkah engkau pada pemahat kita ?"

"Tentu saja, aku tak akan lupa pada pemahat sialan itu. Ia mengambilku dari tempat tinggalku, ia gunakan pahat dan palu padaku untuk membuatku menderita. Sungguh sakit, aku tak terima diperlakukan begitu. Aku melawan dan terus melawan, aku tak mau ia mengubahku sesukanya. Enak saja, sampai kapanpun aku tak mau mengikuti kehendaknya" tukas ubin marmer masih emosi.

"Sahabatku", ujar sang patung marmer lembut, "Itulah yang membedakan kita. Ketika sang pemahat mulai menggunakan pahatnya padaku, aku yakin bahwa sang pemahat punya maksud baik untukku. Aku bertahan atas segala derita yang kualami, aku rela untuk menerima cukilan demi cukilan pahatnya, aku tidak meyerah dan bisa menerima segala proses yang dilakukannya padaku sehingga akhirnya aku menjadi seperti sekarang, sebuah mahakarya."

"Sementara engkau, engkau terus menolak dan melawan, engkau bersikap negatif terhadap perubahan. Engkau tidak mau mengerti maksud baik sang pemahat, engkau mudah menyerah dan patah atas tempaan, sehingga hal terbaik yang bisa dilakukan hanyalah menjadikanmu ubin". Ujar patung pualam kembali.

Mendengar ini, sang ubin pun terdiam. Sang patung kemudian melanjutkan;

"Oleh karena itu, janganlah engkau bicara soal ketidak adilan. Janganlah engkau melihat seakan nasib baik hanya datang kepada yang lain tapi tidak kepadamu. Janganlah engkau menyalahkan sang pemahat. Salahkan dirimu sendiri, kalau sekarang engkau diabaikan, tidak dianggap penting dan diinjak-injak orang".

--------------

Hidup ini pilihan, ketika Tuhan "Sang Pemahat Agung" menempa dan memahatmu melalui pelbagai cara, bagaimana dirimu menyambutnya akan menentukan, apakah engkau menjadi suatu mahakarya atau hanya sepetak ubin.

Senin, 16 Oktober 2006

TO GIVE OR TO GET

Seorang pebisnis muda datang mengadukan masalahnya kepada sahabat saya yang berprofesi sebagai konsultan spiritual bisnis. Pebisnis itu membuka masalahannya dengan mengatakan, "Pak saya memiliki adik yang sangat durhaka. Ketika kuliah saya yang membiayai. Ketika dia menikah saya yang menikahkan dan menanggung semua biayanya. Sekarang berbekal satu kwitansi atas namanya, dia akan menggugat saya ke pengadilan. Dalam gugatannya ia mengatakan rumah yang saya tempati adalah milik adik saya." Pebisnis muda itu diam sejenak sambil menarik napas panjang.

Kemudian dia meneruskan ceritanya, "Padahal rumah itu saya beli dengan tetesan keringat saya. Saya nggak habis pikir, mengapa dia tega melakukan ini. Saya minta petunjuk dari Bapak bagaimana menundukkan adik saya. Saya ingin agar adik saya sadar dan tidak usah membawa permasalahan itu ke pengadilan. Saya malu dengan banyak orang."

Kemudian konsultan bertanya, "Dari mana uang yang kamu gunakan untuk membangun rumahmu?"
Orang itu menjawab, "Dari hasil jerih payah usaha saya. Saya pernah punya usaha pom bensin tapi sekarang sudah bangkrut."

Terus darimana modal usaha pom bensinmu? desak sang konsultan. Dia terdiam.
Setelah menarik nafas panjang, dia berkata , "Modal usaha pom bensin saya peroleh dari hasil penjualan tanah milik ibu saya. Saya jual tanah itu tanpa izin ibu saya. Ibu saya kecewa, tak lama setelah kejadian itu ibu saya dipanggil Yang Maha Kuasa."

"Itulah sebab musabab problem anda. Memulai usaha dengan uang yang tidak bersih bahkan dengan cara menyakiti ibu kandung anda. Ironisnya, anda belum sempat meminta maaf kepada ibu anda dan dia sudah meninggal dunia," jawab sang konsultan.

"Terus bagaimana saya selanjutnya?" kata orang itu.
Konsultan energik itu menjawab, "Ikhlaskan rumah itu buat adik anda. Kehidupan anda tidak akan berkah dengan rumah yang merupakan buah dari menyakiti ibu anda."

Butiran jernih mengalir di pipi orang itu. Dengan nada tersengal dia berkata, "Lalu dimana keluarga saya harus berteduh?
Sang konsultan menjawab, "Allah , Tuhan Penguasa Alam Maha Kaya, pasti ada jalan yang akan Dia berikan."

Sesampainya di rumah sang kakak memanggil adiknya,
"Adikku daripada kita bertengkar di pengadilan dan hubungan persaudaraan kita rusak hanya karena rumah ini, aku serahkan rumah ini untukmu. Aku ikhlas. Rumah ini sebenarnya milik ibu, bukan milik saya. Mulai hari ini, rumah ibu ini aku serahkan sepenuhnya untukmu."
Sang adik berdiri dan kemudian memeluk sang kakak sambil berkata, "Kakakku, rumah ini adalah rumahmu maka ambilah. Saya tidak akan meneruskan di pengadilan. Tinggalah dengan damai di rumah ini bersama istri dan anak-anak kakak. Saya bangga menjadi adikmu. Saya tak ingin kehilangan engkau kakakku..."
Keduanya berpelukan dengan linangan air mata di masing-masing pipinya.

Kisah nyata di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa ketika kita berpikir apa yang akan saya dapatkan (to get) maka yang kita peroleh adalah kegelisahan dan permusuhan.
Sebaliknya ketika kita berpikir apa yang bisa saya berikan (to give) maka yang kita peroleh kedamaian, rasa hormat, rasa cinta dan persaudaraan.

Tatkala kita berpikir to get pada hakekatnya kita masih terjajah.
Terjajah oleh harta, terjajah oleh jabatan, terjajah oleh kepentingan dan terjajah oleh gengsi.

Orang-orang yang merdeka adalah orang yang di dalam dirinya tertanam kuat sikap to give.
Bila ia memiliki harta, ilmu dan karunia lainnya ia selalu berpikir kepada siapa lagi saya harus berbagi... berbagi...dan berbagi.

Negeri ini akan terus tumbuh, berkembang, maju dengan diselimuti kedamaian, rasa cinta, persaudaraan, dan kemulian bila sebagian besar diantara kita mengembangkan sikap to give ketimbang to get.
Kita semua harus selalu berpikir, apa yang sudah saya berikan buat anak, mitra kerja, perusahaan, pasangan hidup, saudara, orang tua, bangsa dan Sang Maha Pencipta? Pertanyaan itu harus selalu tertanam kuat dalam setiap aktivitas kita sehari-hari.

Jangan kedepankan to get dalam sikap keseharian kita.
Pada saat sebagian besar orang memiliki sikap to give, kita sudah boleh mengatakan bahwa kita memang sudah MERDEKA.

Minggu, 08 Oktober 2006

PAKIS dan BAMBU

Suatu Hari aku memutuskan untuk berhenti.
Berhenti dari pekerjaanku, berhenti dari hubunganku dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasku. Aku pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya.
"Tuhan", kataku. "berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti?"

Dia memberi jawaban yang mengejutkanku.
"Lihat ke sekelilingmu", kataNya. "Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis Dan bambu yang Ada dihutan ini?"

"Ya", jawabku.

Lalu Tuhan berkata, "Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya, Aku beri mereka air. Pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat warna hijaunya yang menawan menutupi tanah namun, tidak Ada yang terjadi dari benih bambu tapi Aku tidak berhenti merawatnya."

"Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak Ada yang terjadi dari benih bambu tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya."

"Dalam tahun ketiga tetap tidak Ada yang tumbuh dari benih bambu itu tapi Aku tetap tidak menyerah begitu juga dengan tahun ke empat. "

"Lalu pada tahun ke lima sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah bandingkan dengan pakis, itu kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani. "

"Tahukah engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu. "

Tuhan berkata "Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah."

"Saatmu akan tiba", Tuhan mengatakan itu kepadaku. "Engkau akan tumbuh sangat tinggi"

"Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?" tanyaku.

"Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?" Tuhan balik bertanya.

"Setinggi yang mereka mampu?" Aku bertanya

"Ya." jawabNya, "Muliakan Aku dengan pertumbuhanmu, setinggi yang engkau dapat capai."

Lalu aku pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Allah tidak akan pernah menyerah terhadap aku dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap anda. Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu Hari.

Hari-Hari yang baik memberikan kebahagiaan ;
Hari-Hari yang kurang baik memberi pengalaman ;
Kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini.

Rabu, 13 September 2006

"PERAHU KESELAMATAN"

Aku duduk menikmati senja dalam perahu keselamatanku yang sedang berlabuh. Kulihat Yesus di ruang kemudi, menatapku dan berkata, "Lepaskan tambatan perahumu dan biarkan Aku membawa engkau ke seberang. Bukan rencanaKu untuk engkau tetap tertambat disini."

Dengan takut, gelisah dan khawatir aku menjawabNya, "Tuhan bukankah lebih baik aku tetap disini. Aku tidak akan melihat topan, badai dan angin ribut. Dan aku dapat kembali ke darat kapanpun aku mau."

Lembut Yesus memegang tanganku, menatap mataku dan berkata, "Memang disini engkau tidak akan mengalami topan, badai dan angin ribut. Tetapi engkau juga tidak akan pernah melihat Aku mengatasi semua itu. Engkau tidak akan melihat Aku berkuasa atas semuanya itu, karena Akulah TUHAN."

Dalam pergumulan berat, aku memandangi tali yang mengikat perahuku. Di tali itu aku melihat ada rasa khawatir akan hidup, keuangan, pekerjaan, pasangan, dan lain-lain. Dalam hati aku bertanya-tanya, "Tahukah Ia akan apa yang aku inginkan? Mengertikah Ia akan apa yang aku rindukan dan dambakan?"

Yesus memelukku dan berbisik lembut, "Memang tidak semuanya akan sesuai dengan apa yang kau inginkan, rindukan dan dambakan, bahkan mungkin kebalikannya yang akan kau dapat, tapi maukah kau percaya? RancanganKu adalah rancangan damai sejahtera, masa depanKu adalah masa depan yang penuh harapan."

Ia memelukku dan menangis bersamaku, dengan berat aku melepaskan tali perahuku. Kulepaskan semua rasa khawatir itu dari hatiku, kutaruh hak atas masa depanku di tanganNya. Aku tidak tahu bagaimana masa depanku, sambil menangis aku menatapNya dan berkata, "JADILAH NAHKODA DALAM PERAHUKU DAN MARILAH KITA BERLAYAR..."

Teman-teman maukah kita menyerahkan hak atas masa depan kita dalam tanganNya? Tanpa kita pernah tahu bagaimana Ia akan merancang semuanya itu, tapi hanya dengan satu keyakinan : "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11).

Saya tidak berdoa untuk beban yang lebih ringan, melainkan untuk punggung yang lebih kuat. (Phillips Brooks). Orang berlatih untuk meraih sukses, padahal seharusnya mereka berlatih untuk menghadapi kegagalan. Kegagalan adalah jauh lebih umum dari pada sukses, kemiskinan jauh lebih menjamur dari pada kekayaan, dan kekecewaan jauh lebih normal dari pada kepuasan. (J. Wallale. Hamilton).

dia- dari seorang teman: Clara Uniek di Jakarta

Selasa, 12 September 2006

Adakah yang akan mendoakan kita?

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan akhirnya stroke, sudah 7 malam dirawat di RS di ruang ICU. Disaat orang-orang terlelap dalam mimpi malam, dalam dunia Roh seorang Malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, "kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesembuhanmu, maka kau akan hidup dan sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau akan meninggal dunia !

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah gampang .. . " kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali mengunjunginya; dengan antusiasnya si pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku sudah pulih? pastilah banyak yang berdoa buat aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50 orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit".

Dengan lembut si Malaikat berkata, "Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktu mu tinggal 60 menit lagi, rasanya mustahil kalau dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang berdoa buat kesembuhanmu".

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si Malaikat menunjukkan layer besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka.

Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu, kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu"

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa jam 2:00 subuh, " Tuhan, aku tahu kalau selama hidup suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu, tapi Tuhan, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah dan hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri." Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-kata tapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat.

Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir di pipi pengusaha ini timbul penyesalan bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya, dan malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini, penyesalan yang luar biasa tapi waktunya sudah terlambat! Tidak mungkin dalam waktu 10 menit ada yang berdoa 47 orang!

Dengan setengah bergumam dia bertanya, "Apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, "Ada beberapa yang berdoa buatmu tapi mereka tidak tulus, bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini, itu semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik, bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah".

Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia, tapi dia minta waktu sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Anakku, Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu!! Kau tidak jadi meninggal, karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00".

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

"Bukankah itu Panti Asuhan?" kata si pengusaha pelan.

Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri.

Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU, setelah melihat gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa buat kesembuhanmu.

Doa sangat besar kuasanya, tak jarang kita malas, tidak punya waktu, tidak terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama / keluarga, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia, mungkin saja pada saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.

Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus. (Roma 8:27)