Senin, 10 November 2008

Benarkah Anda Bisa Melakukan Apapun Juga?

Salah satu impian terbesar umat manusia adalah; bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Untungnya, orang-orang hebat sering mengatakan;"Anda bisa melakukan apa saja!". Sangat mudah untuk menyerap nasihat itu karena kedengarannya bisa mengantar kita kepada mimpi terbesar itu. Tidak heran jika kemudian didalam hati kita ada sebuah ukiran indah berbunyi: "Aku bisa melakukan apa saja!". Uuuh, kedengarannya ini bisa menjadi bukti pencapaian tertinggi umat manusia. Karena, jika kita bisa melakukan apa saja; maka tercapai sudah segala impian itu. Tapi, benarkah anda bisa melakukan apapun juga?

Anda yang pernah menonton film The Land Before Time, tentu ingat tujuh sekawan hewan purba kecil yang bersahabat. Littlefoot si anak Apatosaurus berleher panjang menjadi pusat persahabatan itu. Cera si anak Triceratops, badak purba bercula tiga yang juga disebut sebagai Trihorn. Ducky si anak Saurolophus sang nenek moyang bangsa bebek. Petrie, si anak Pteranodon yang merawisi masa depan para burung. Spike si Stegosaurus sang leluhur buaya. Ruby si Oviraptor cilik. Dan Chomper anak Tyrranosaurus yang memilih untuk bersahabat dari pada harus memakan teman-temannya.

Ayah Cera yang raja Trihorn menasihatkan sebuah pelajaran penting. "Cera," katanya. "Trihorn itu adalah mahluk terhormat dan paling hebat. Karena," lanjutnya. "Kita keluarga Trihorn bisa melakukan apa saja!" Suaranya yang besar dan menggelegar menggema ke seluruh penjuru rimba purba. Sedangkan didalam dada Cera, nasihat itu
menjelma menjadi semangat yang membara. Yang menjadikan dirinya begitu percaya bahwa; Seekor Trihorn seperti dia, bisa melakukan apa saja.

Pada suatu ketika, ketujuh sekawan mengadakan perlombaan yang unik. Yaitu, berdiri diatas sebatang kayu yang terapung diair. Siapa yang paling lama berdiri diatasnya, dialah pemenangnya. Littlefoot, tidak ikut bertanding. Dia memilih untuk menjadi pendukung para kontestan yang sedang berlomba. Karena dia tahu, binatang besar berkaki empat seperti dia tidak dirancang untuk melakukan hal semacam itu. Sedangkan Cera yang juga besar dan berkaki empat? Dia tahu bahwa seekor Trihorn bisa melakukan apa saja. Persis seperti yang selalu dikatakan oleh ayahnya.

Sebelum pergi, Cera berpamitan kepada Ibunya. "Ibu, aku mau bermain sama teman-teman." katanya. "Akan aku menangkan pertandingan itu, karena seekor Trihorn bisa melakukan apa saja!" Semangat itu tentu membuat kedua orang tuanya bangga. Terutama sang ayah yang telah berhasil menjadikan anaknya seorang pemikir positif, penuh percaya diri, dan selalu optimis. Tapi, ibunya penasaran dan bertanya;"Kalian mengadakan perlombaan apa kali ini, Cera?".

Pertanyaan itu menghasilkan sebuah jawaban yang sangat mengejutkan. Sampai-sampai, Ayah yang sedang mengasah tanduknya berhenti dan berteriak; "Perlombaan macam apa itu, Cera?" suaranya menggetarkan dada. "Kamu tidak boleh ikut perlombaan itu!" seraya berlari menghampirinya.

"Mengapa aku tidak boleh ikut berlomba, Ayah?" tanya Cera. "Aku ingin memenangkan pertandingan itu..." lanjutnya.

"Itu permainan yang sangat berbahaya!" jawab Ayah dalam suara tinggi erbalut cemas.

"Ayah, bukankah Ayah bilang seekor Trihorn bisa melakukan apa saja?" Cera membalas diantara kebingungan dan kekecewaan.

"I, Iyya, tapi..." Ayah terlihat ragu-ragu. "Tapi, berdiri diatas sebatang kayu yang terapung diair sungai yang deras bukanlah salah atunya...."

"Maksud Ayah..." kata Cera. "Seekor Trihorn tidak bisa melakukannya?" Jelas sekali dia kecewa. Namun, sekuat apapun Ayah menghalanginya, dia tidak bisa dihentikan. Ayah, tidak bisa semudah itu menghapuskan pelajaran yang sudah ditanamkannya didalam diri Cera. Sebab, pelajaran itu, benar-benar diserap, diyakini dan dijiwai olehnya. Hingga dia mengira bahwa memang seekor Trihorn bisa melakukan apa saja.

Kita, para manusia juga demikian. Begitu bertubi-tubinya pelajaran yang meyakinkan kita bahwa kita ini bisa melakukan apa saja. Jika kita mau. Pelajaran itu sungguh-sungguh kita dengarkan. Kita resapi didalam hati. Dan kita jadikan tenaga yang menggelora untuk menyemangati hidup. Namun seperti pengalaman Cera, ada banyak situasi dimana kita harus dihadapakan pada kenyataan bahwa tidak segala hal bisa kita lakukan. Itu membuat kita kebingungan; bukankah para guru motivasi saya mengatakan bahwa saya bisa melakukan apapun juga? Sekarang saya ingin melakukan ini, namun sekuat apapun saya berusaha, ternyata saya tidak bisa jua.

Ketika Cera pada akhirnya tenggelam dan hanyut terbawa arus sungai yang deras. Ayahnya menyadari bahwa kepada para pembelajar, tidak seharusnya dia meyakinkan bahwa mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Bukan. Bukan itu. Sebab, seekor Trihorn tidak didisain Tuhan untuk menjadi perenang hebat. Atau penerbang ulung. Seekor Trihorn, dirancang untuk menjadi dirinya sendiri. Mengenali potensi diri sejati yang dimilikinya. Lalu, menggunakan kemampuan itu untuk menjalani hidupnya. Dan. Itu tidak berarti melakukan apa saja yang diinginkannya. Melainkan, untuk. Menjalani fitrahnya. Mengikuti kodratnya. Memaknai keberadaan dirinya. Melalui aktualisasi atas kapasitas diri itu.

Cera, bukanlah satu-satunya pembelajar penuh semangat yang haus akan pencerahan itu. Ada jutaan Cera lain yang merindukan pengarahan yang benar tentang apa yang patut dilakukan dalam hidupnya. Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mengatakan bahwa; kita bukanlah mahluk yang bisa melakukan apa saja. Tapi, kita bisa meraih kesuksesan hidup dengan melakukan apa saja yang sesuai dengan kemampuan dan kapasitas diri kita seutuhnya. Yaitu, ketika kita menjadi manusia yang bersedia mengakui betapa kita ini bukan mahluk yang sempurna. Namun, dibalik kesadaran akan ketidaksempurnaan itu, tumbuh keyakinan bahwa; Tuhan sudah menghadiahi kita dengan kemampuan untuk menjalani sebaik-baiknya hidup. (Dadang Kadarusman)

Catatan Kaki:
Ada dua alasan mengapa kita tidak perlu bisa melakukan segala hal.
Pertama, diri kita tidak didisain untuk menjadi mahluk yang serba
bisa. Dan kedua, kesuksesan bukanlah milik mereka yang bisa melakukan
segala hal; melainkan kabar baik bagi orang-orang yang bersedia
memberdayakan diri.

Jumat, 24 Oktober 2008

Seberapa Besar Kapasitas Aktual Diri Anda?

Disekitar kita; begitu banyak orang hebat yang mengagumkan. Mereka memiliki kemampuan diatas rata-rata. Sehingga terlihat unggul dari manusia lainnya. Ketika dihadapkan pada suatu pekerjaan atau tugas tertentu, mereka selalu bisa menyelesaikannya dengan lebih baik dari orang lain. Ketika mereka dihadapkan pada situasi sulit tertentu, mereka selalu bisa menangani kesulitan itu dengan lebih baik dari orang lain. Ketika prestasi mereka dievaluasi, track record-nya lebih cemerlang dari kebanyakan orang. Seolah-olah, mereka benar-benar manusia paling ideal untuk pekerjaan yang ditanganinya. Itu membuat kita bertanya; "Mengapa Tuhan memberikan talenta begitu hebatnya kepada dia? Sedangkan kepada saya tidak. Jika saya diberkahi kemampuan yang seperti itu, pasti saya akan berprestasi seperti orang itu." Benarkah demikian?

Beberapa waktu lalu, saya merasakan bahwa kemampuan lap top saya sudah menurun sangat jauh sekali dari sebelumnya. Padahal, dia menggunakan processor yang pasti memadai untuk mendukung kinerja seorang perofesional. Kinerjanya yang semakin memburuk membuat saya tidak mampu menyembunyikan ketidaksabaran ini, sampai-sampai boss saya memergoki dan bilang; "Be patience Dadang, it is still processing…" katanya. "She has to perform faster if she still wants to work with me," saya menyahut. Tapi, kecaman saya tidak membuatnya bekerja lebih cepat. Padahal, saya sudah melakukan clean disk, dan juga defrag. Akhirnya, minggu lalu saya mengirim memo kepada teman-teman di BT, bahwa saya mau lap top yang bisa bekerja lebih cepat.

Tak lama kemudian, lap top itupun masuk ke dalam klinik untuk diperiksa para dokter spesialis computer, sebelum kembali keruang kerja saya beberapa jam berikutnya. Tahukah anda, bagaimana kinerjanya sekarang? Wuish, she runs like a flash! Sampai-sampai saya terkejut dibuatnya. Sehingga saya tidak sabar untuk bertanya;"Man, elo apain tuch lap top gue?"

Teman BT saya berkata;"Ditambah RAM-nya jadi dua kali lipat, Pak."
"Cuma begitu doank?"
"Iya. Hanya itu." Jawabnya.
Saya tahu dia bangga dengan hasil kerjanya. Dan saya sangat menghargai usahanya.
"Nggak elo ganti processornya?"
"Nggak Pak," katanya. "Masih bagus, kok." Lanjutnya.

Saat itu saya menyadari, bahwa processor adalah potensi atau kapasitas maksimal tentang apa yang bisa dilakukan oleh sebuah computer. Dalam diri manusia, itulah yang biasa kita sebut sebagai talenta atau bakat, alias kapasitas terpendam dalam diri seseorang.

Dalam computer, fungsi processor itu penting pada saat komputer sedang diaktifkan untuk bekerja. Ini menentukan sampai sejauh mana fungsi computer itu bisa dimaksimalkan. Bagi manusia, fungsi talenta itu penting pada saat kita sedang bekerja atau melakukan suatu aktivitas. Ini menentukan sampai setinggi apa kita bisa berprestasi.

Sekarang, RAM itu apa? Mengapa meningkatkan RAM dua kali lipat bisa menaikkan kinerja processor computer itu sedemikan bermaknanya? RAM adalah sebuah playing ground. Tempat dimana file-file ditarik dari hard disk dan siap untuk diaktifkan. Dioperasikan. Diolah. Dieksekusi. Ditambah gambar ini dan itu. Meskipun kemampuan prosesornya tinggi, namun jika RAM-nya terlampau kecil untuk menampung file-file yang sedang diaktifkan, maka kinerja computer itu akan menjadi sangat buruk. Dia tidak bisa menjadi computer canggih. Manusia juga demikian. Meskipun talentanya besar. Potensi dirinya tinggi. Namun, jika kapasitas playing ground-nya terlampau kecil untuk menampung seluruh potensi diri itu, maka kinerjanya akan buruk juga. Dia tidak akan bisa menjadi manusia unggul.

Ngomong-ngomong, bukankah kita seringkali berbangga hati dengan menyebutkan bahwa; "manusia adalah super computer?" Jika klaim itu benar adanya; bukankah seharusnya kita bisa lebih hebat dari computer tercanggih sekalipun? Mungkin itu benar jika konteks yang kita maksud adalah talenta atau potensi diri yang kita miliki. Sebab, kita percaya bahwa kemampuan otak kita saja konon baru digunakan tidak sampai 5% saja. Tetapi, jika kita berbicara tentang actualized individual potential, maka kita harus bertanya ulang. Mengapa? arena, kita sudah bertemu dengan begitu banyak orang yang sesungguhnya sangat berbakat, namun pencapaiannya tidak sampai kemana-mana. Sebab, orang-orang ini telah membiarkan playing ground-nya menjadi begitu kecil.

Pertanyaannya sekarang adalah; bagaimana caranya memperbesar playing ground diri kita? Ada banyak cara. Satu, melatih diri untuk sesuatu yang lebih tinggi. Berapa banyak dari kita yang bersedia menantang diri sendiri untuk menguasai keterampilan-keterampilan baru? Kenyataannya kita sudah cukup puas dengan kemampuan yang kita miliki saat ini. Melatih diri untuk sesuatu yang baru itu menguras tenaga. Membutuhkan waktu. Dan memerlukan komitment. Mengapa kita harus bersusah payah begitu jika kita sudah puas dengan keadaan sekarang?

Dua, meninggalkan comfort zone. Ada banyak peluang baru dalam jarak setengah sentimeter dari diri kita. Namun, untuk meraihnya kita harus bersedia keluar dari zona kenyamanan kita. Mungkin kita harus meninggalkan kestabilan menuju kepada hal yang tidak menentu untuk sementara waktu. Kita perlu menyesuaikan diri kembali. Kita harus merevisi asumsi-asumsi diri. Dan banyak hal lagi yang mesti kita ubah. Tetapi, berapa banyak dari kita yang bersedia meninggalkan comfort zone seperti itu? Jika kondisi sekarang sudah membuat kita enak, mengapa kita harus meninggalkan kenyamanan ini untuk sesuatu yang beresiko dan penuh teka-teki?

Tiga, bersedia membayar harganya. Ketika kita melihat orang lain berprestasi tinggi, seringkali kita hanya melihat hasil akhirnya saja. Yaitu, berupa pencapaian hebat orang itu. Lalu, kita berkata; "Beruntungnya dia. Tuhan telah berbaik hati memberinya talenta yang hebat." Kita tidak pernah tahu bahwa orang itu telah selama bertahun-tahun mengurangi jam tidurnya. Membuang kesenangannya bermain-main dengan game computer yang menyita begitu banyak waktu, tenaga dan biaya itu. Memeras pikirannya. Memaksa diri untuk berdisiplin tinggi. Dan hanya berfokus kepada hal-hal yang akan membawanya kepada peningkatan kualitas diri secara progresif.

Kita tidak pernah mengetahui semua kerja keras yang dilakukan oleh orang itu. Karena kita terlampau silau oleh hasil akhir yang dicapainya, sambil sesekali menelan ludah. Yang sebenarnya terjadi adalah; `Hanya setelah orang itu bersedia membayar semua harganya sajalah, dia baru bisa sampai kepada pencapaian itu.' Lagi pula, kalau pun kita tahu pahit dan sulit serta terjal berlikunya jalan yang harus dia tempuh; belum tentu kita mau mengikuti jejak langkahnya, bukan? Padahal, ketiga hal itulah yang sesungguhnya telah berhasil menjadikan playing ground-nya menjadi semakin besar. Sehingga kapasitas dirinya juga menjadi semakin besar. Semakin besar. Dan semakin membesar. Sehingga tidak heran jika orang itu bisa meninggalkan manusia-manusia kebanyakan jauh dibelakangnya.

Jika dalam computer kita menyebutnya RAM, bagaimana dengan manusia? Bolehkah saya menyebutnya HAM? Ya. HAM. Human Activated Memory. Yaitu, memory yang tersimpan dalam diri kita, yang bisa kita gunakan untuk berurusan dengan hal-hal yang kita hadapi secara spontan. Memori itu berbahan dasar talenta. Yaitu, potensi yang tersimpan didalam diri kita. Betul-betul dilatih dan diolah sampai menjadi kemampuan actual. Sehingga, kapan saja kemampuan itu dibutuhkan, kita bisa memanggil dan mendayagunakannya secara spontan.

Anda boleh saja mengklaim diri berbakat bermain piano, misalnya. Tapi, jika bakat itu tidak diasah dengan sungguh-sungguh. Maka klaim anda hanya akan menjadi bualan belaka. Permainan piano anda tetap saja jelek. Anda boleh saja mengklaim bahwa diri andalah yang paling layak mendapatkan promosi itu, bukan pesaing anda. Karena anda mengira bahwa anda lebih senior. Lebih pintar. Lebih rajin. Tapi, jika klaim anda itu tidak didukung oleh kapasitas actual yang bisa anda tunjukkan; maka anda tetap saja akan menjadi karyawan jelek. Dan hati anda juga jelek, karena dipenuhi rasa iri.

Anda juga boleh menganggap diri sendiri kurang berbakat. Jadi, wajar saja jika pencapaian anda biasa-biasa saja. Anda tidak dilahirkan untuk menjadi pemenang. Karena Tuhan memberi anda begitu banyak keterbatasan. Hey, wake up! Bangun, bung! Tidak ada manusia yang dilahirkan tanpa keterbatasan. Dan tidak ada manusia yang dilahirkan tanpa membawa pesan dan seoles kemampuan. Wake up and realize that YOU; don't need to be a perfect person to succeed. YOU, just need to accept yourself just the way you are. And start to enlarge your own playing ground. Your Human Actualized Memory. Your HAM. Would you?

Kamis, 21 Agustus 2008

MENUNTUT

"Menuntut" sudah menjadi sebuah gaya hidup yang sangat biasa kita lakukan.

Di gereja, kita "menuntut" seorang pembicara yang humoris dan menyenangkan. Kita menuntut suasana gereja yang tenang atau penuh energi saat penyembahan / paduan suara. Kita "menuntut" sarana gereja harus baik (tempat parkir harus luas, jalan harus gampang, ruang gereja harus ber-AC, jalan naik ke ruang gereja harus lewat lift / elevator, harus ada acara makan-makan - minimal menu Eropa atau Jepang - kalo acara gereja lebih dari 2 jam). Kalau tidak, minggu depan kita akan pindah ke gereja lain.

Pada Tuhan, kita "menuntut" pasangan hidup yang sempurna, yang mau memahami kita, yang seiman dengan kita. Kita "menuntut" diberi kehidupan yang baik, kaya, punya harta yang banyak. Kita "menuntut" Tuhan memberikan kelancaran pada bisnis kita, biar kangtaw selalu lancar dan banyak. Kita "menuntut" Tuhan selalu mendengar doa kita. Tidak jarang, agar "tuntutan-tuntutan" didengar Tuhan, kita bersikap bak anak umur 3 tahun : MENANGIS SEKENCANG-KENCANGNYA !!! Baik sambil berdoa, maupun bernyanyi (bahkan tidak jarang sampai pukul2 dada, meratap, mohon ampun sambil bersujud, meloncat-loncat, atau menggeleng-geleng kepala kayak orang kerasukan / trance). Saya suka ketawa jika lihat orang seperti itu. Jadi ingat anak saya yang berumur 3 tahun. Kalo permintaannya tidak dituruti, dia akan menangis sekencang-kencangnya, dan bertanya, "Mengapa Papa tidak membelikan saya permen? Mengapa Papa sejahat itu? Mengapa Papa tidak sayang saya lagi?" Ya... begitulah kita !!!! Gak jauh beda ya dengan anak umur segitu?

Di kantor, kita "menuntut" perusahaan memberikan fasilitas yang "layak" (komputer keluaran terbaru dengan kapasitas RAM, DDR, Harddisk yang paling besar, Motherboard yang super canggih, layar plasma atau flat berukuran 29" (kalo ada), jaringan LAN / WAN yang 'ces-leng' (yang gak pernah putus connection internet-nya), fasilitas mobil dari kantor, rumah, gaji yang tinggi dan pasti / wajib selalu naik minimal 50%, ruang kantor yang mewah dengan AC baru yang masih sejuk, bla-bla-bla). Kalau tidak dapat, kita akan kerja asal-asalan dan ogah-ogahan. Gak lama, keluar dan cari gawe lain yang bisa memberikan fasilitas yang kita inginkan.

Di lingkungan sekitar, kita "menuntut" banyak hal pada lingkungan. Kita menuntut pemerintah menurunkan harga BBM. Kita menuntut Pemerintah Daerah menaikkan Upah Minimum Regional dan Daerah. Kita menuntut pengadilan menghukum Jaksa Agung yang korup. Kita menuntut negara membubarkan Ahmadiah. Kekerasan menjadi pilihan ketika "tuntutan" kita tidak didengar. Kita pun sering "menuntut" pemerintah untuk memperhatikan sarana dan prasarana (jalan, selokan, penerangan, dll). Biar kalo banjir, rumah gak kebanjiran. Listrik jangan byar-pet aja. Air PAM ngocor terus. Tapi omong-omong.... sudah bayar pajak (PPh, PBB, PPN, Pajak Kebersihan, Pajak Sampah, Pajak Keamanan, dan Pajak2 lain) belom? Listrik dibayar sesuai gak? Nyuri listrik tetangga gak? Manipulasi meteran gak?

HARGA YANG HARUS DIBAYAR
Yang menyedihkan (sekaligus menyebalkan), kita sering lupa bahwa apa yang kita tuntut selalu ada harga yang harus dibayar. Tidak ada yang gratis. Kita bisa menuntut Gereja punya fasilitas yang baik. Kita menuntut gereja lebih perduli pada kita. Tapi apa kontribusi Anda pada gereja? Sudah aktif dalam persekutuan? Ikut perlawatan? Ada ngasih sumbangan? Ngasih bantuan dana pada pembangunan gereja, sekolah alkitab, pengembangan program gereja? Perpuluhan gimana? Lancar? Ngasih lebih atau benar-benar PAS sepuluh persen, atau malah kurang 1%? Atau hanya 2.5%, seperti rekan-rekan kita non-Kristen?

Begitu juga ketika kita berdoa pada Bapa. Kita selalu "menuntut" doa kita dijawab. Saya yakin, pada saat kita minta, Bapa pasti dan mampu menjawab langsung doa kita. Tapi sebelumnya, Dia akan selalu bertanya, "Apa yang bisa kau lakukan pada-Ku?"

Ya.... Tidak hanya Tuhan dan Gereja, tetapi di mana pun. Ketika kita menuntut sesuatu, pasti ada harga yang harus kita bayar dan semuanya harus KONTAN. Sudah bukan rahasia lagi bahwa di dunia ini berlaku hukum ekonomi bahwa "Harga gak bohong". Artinya, ketika menuntut barang atau perlakukan yang terbaik, kita sudah harus tahu bahwa ada harga yang cukup tinggi yang harus kita bayar dulu sebelum tuntutan kita terpenuhi.
Seorang rekan saya, baru-baru ini mendatangi pimpinan dan mengeluh karena fasilitas yang dia peroleh sangat minim, sehingga dia tidak bisa produktif. Pimpinan saya dengan arif bertanya padanya, "Fasilitas apa sebenarnya yang Anda butuhkan?"

Dengan berapi-api, rekan saya berkata," Gini, Pak. Saya kan Marketing. Bapak tahu mobilitas saya tinggi. Maka saya butuh laptop agar tiap kali komunikasi, saya bisa langsung update ke kantor. Saya juga butuh hp. Yang 3G, punya foto, blue-tooth, dan punya koneksi internet yang cepat. Jadi kalo ada produk yang dibutuhkan Buyer, saya tinggal foto, dan kirim pada divisi lain untuk di-follow up. Semuanya jadi bisa sangat cepat. Saya juga butuh pulsa tidak terbatas, agar informasi yang saya berikan tidak terhenti dan terus ter-update. Gitu aja, Pak. Sebenarnya saya "bisa" kerja lebih efektif buat Bapak JIKA fasilitas itu terpenuhi."

Pimpinan saya tersenyum, "Oke kalo gitu. Gak masalah. Dua hari ini akan saya siapkan. Tapi pertanyaan saya : berapa omset yang BISA Anda berikan bagi perusahaan setelah ada fasilitas itu?"

"Belum tahu, Pak. Selama fasilitas belum ada, saya belum bisa memberikan komitmen omset buat Bapak."

"Berapa klien yang BISA Anda berikan bagi perusahaan."

"Belum tahu, Pak. Kan...."

"Oke... oke. Berapa efektif Anda BISA bekerja buat saya? Anda siap setiap saat saya butuh Anda? Anda mampu bekerja 24 jam bersama saya? Anda bisa hadir kapan pun dan di mana pun saya butuhkan?"

"Oh... eh... itu..., "rekan saya jadi ragu. "Susah ya, Pak. Kan saya manusia seperti Bapak. Saya punya kehidupan pribadi. Butuh istirahat. Butuh sosialisasi. Jadi gak mungkin waktu saya semua untuk perusahaan."

Pimpinan saya tertawa. "Jadi apa dong kontribusi kamu buat perusahaan? Ini gak bisa, itu gak mau, ini-itu gak tahu. Bisanya minta melulu."

INILAH KITA....
Ya... inilah gambaran kita. Kita sering kali bisanya menuntut saja. Tapi ketika diminta "membayar" harga untuk tuntutan itu, kita gak bisa dan gak mau. Jadi bisanya apa dong?

Beberapa waktu lalu, mungkin Anda juga dengan para pekerja perusahaan rokok terbesar di Jawa Timur demo karena minta uang jasa pada perusahaannya. Padahal uang jasa itu diberikan pada karyawan yang telah bekerja lebih dari 5 tahun dan mengajukan pengunduran diri (sesuai UU Tenaga Kerja No. 13 tahun 1991). Mengapa perusahaan tidak memberikan uang jasa? Karena, jika uang jasa diberikan, artinya perusahaan melakukan PHK massal. Jika para pekerja menuntut uang jasa diberikan, artinya mereka siap mengundurkan diri. Pertanyaan : Apa mereka sudah benar-benar siap? Rasanya cukup bodoh jika mereka harus melepas mata pencarian tetap yang senilai minimal Rp 600 ribu / bulan hanya demi uang jasa sebesar Rp 300 ribu yang hanya akan mereka terima satu kali untuk selamanya.

Pada Tuhan pun sama. Yang belum menikah seringkali berdoa minta Tuhan memberikan jodoh yang "sempurna". Tapi kita tidak pernah sadar, apakah kita sendiri sudah sempurna? Kita menuntut calon kekasih kita adalah orang yang takut pada Tuhan dan mencintai kita sepenuh hati. Kita sendiri gimana? Sudah takut pada Tuhan? Sudah perduli sepenuh hati pada sesama, atau hanya sekedar melaksanakan "tugas pelayanan"? Yakin sudah melaksanakan sepenuh hati? Coba sebutkan nama 10 orang yang Anda layani dalam minggu ini. Apa masalah dan harapan mereka? Bagaimana kehidupan keluarganya? Anggota keluarganya sudah percaya Tuhan semua? Mereka sudah Anda doakan dan bawa dalam doa shafaat harian? Semuanya? Setiap hari?

Jika kita saja tidak mampu "membayar" apa yang kita tuntut pada Tuhan, apa mungkin Tuhan memberikan sesuai yang kita mau? Karena itulah, kita selalu diajar untuk meminta "sesuai kehendak-Nya", karena kita sendiri tidak mampu "membayar" apa yang kita "tuntut" pada Tuhan.

Janganlah menjadi orang yang bisanya menuntut saja. Ingatlah, ketika kita menuntut sesuatu - entah apapun dan pada siapapun - ada harga yang harus kita bayar. Jika Anda pasti bisa membayarnya, niscaya, tuntutan Anda akan didengar dan langsung dijalankan. Tapi jika tidak mampu.... jangan harap tuntutan Anda didengar.

Tuhan memberkati.
GBU, Constantine.

Selasa, 12 Agustus 2008

LOMPATAN SI BELALANG

Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi diantara sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat dapat pergi kesana.

Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut. Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat keindahan desa itu. Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar. Belalang itu bertanya kepada anjing,"Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan disini ?" "Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini" jawab anjing dengan sombongnya. Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda. Dia lalu berkata lagi "Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita". "Baik", jawab si anjing. "Di depan sanaada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut".

Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut. Kesempata n berikutnya adalah si belalang muda.Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata gagal pula.

Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata ,"Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang ? Kamu sudah kalah"."Belum", jawab si belalang. "Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua ?" "Apapun tantangan itu, aku siap" tukas si anjing. Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, dari diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya".

Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasi l lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari
lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum. "Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga", kata si anjing. "Tidak perlu", jawab si belalang. "Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.

INTINYA ADALAH, SETIAP DARI KITA MEMPUNYAI POTENSI DAN STANDARD YANG BERBEDA TENTANG KEMENANGAN. ADALAH TIDAK BIJAKSANA MEMBANDINGKAN POTENSI KITA DENGAN YANG LAIN.

KEMENANGAN SEJATI ADALAH KETIKA DENGAN POTENSI YANG KITA MILIKI, KITA BISA MELAMPAUI STANDARD DIRI KITA SENDIRI.

REFLEKSI :
Seberapa tinggikah kita `melompat' ?
Dalam kehidupan, seringkali tanpa sadar kita mencoba membandingkan kemajuan dan perkembangan diri kita dengan standard orang lain. Membandingkan pendapatan kita dengan orang lain, pekerjaan kita dengan pekerjaan orang lain, salary kita dengan salary orang lain, barang-barang yang kita miliki dengan barang orang lain, kesuksesan yang kita miliki dengan kesuksesan orang lain, karir kita dengan karir orang lain dlsb...

Dan seringkali lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan yang didapat. Mengapa ? Karena kita masing-masing dilahirkan dengan potensi yang berbeda, dengan bakat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, dan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan.

Cara yang tepat untuk mengukur seberapa jauh diri kita telah berkembang dan maju, adalah membandingkan diri kita saat ini dengan diri kita dimasa lalu.

Apakah Kita hari ini lebih kaya dibanding setahun yang lalu ? Apakah Kita hari ini lebih bisa mengontrol emosi dibanding bulan lalu ? Apakah Kita hari ini lebih sehat dibanding kemarin ? Apakah Kita hari ini lebih bijaksana dibanding setahun yang lalu ?

Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, namun kemenangan atas diri sendiri.

Mari kita buat diri kita hari ini selalu lebih baik dari hari kemarin.

Rabu, 02 Juli 2008

TUHAN TIDAK PINTAR MATEMATIKA

Dari pengamatan saya terhadap keseharian yang saya temui, saya dapat menyimpulkan satu hal: Tuhan memang serba bisa, tapi Dia tidak pintar matematika. Kesimpulan ini bukan tanpa dasar lho. Banyak bukti empiris yang mendukung kesimpulan saya ini.
Sebagai seorang "fresh graduate", saya tak mungkin mengharapkan penghasilan tinggi dalam waktu sekejap. Terlebih karena saya memegang prinsip bahwa hal yang terpenting dalam bekerja adalah kepuasan hati. Saya lebih memilih pekerjaan yang mungkin tak segemerlap pekerjaan yang dipilih teman-teman seangkatan saya, tapi mampu "memuaskan" idealisme saya.

Saya memang sangat mencintai dan menikmati pekerjaan saya saat ini. Tapi saat saya berbincang dengan seorang teman yang bekerja di ibukota, ia mulai membandingkan penghasilan kami (dari sisi finansial tentunya). Jelas saja saya kalah telak darinya.

Saya sempat jengkel sebentar. Bagaimana tidak. Selama bermahasiswa, sepertinya prestasi kami sejajar, bahkan saya lebih dahulu lulus ketimbang dia. Tapi kenapa Tuhan tidak menitipkan rejeki yang sama besarnya dengan yang dititipkan pada teman saya ini?

Tapi, begitu saya merenungkan kembali segala kebaikan Tuhan saya menemukan satu hal yang luar biasa. Ternyata penghasilan saya yang tak seberapa itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saya, bahkan untuk mengirim adik ke bangku kuliah. Padahal logikanya pengeluaran saya per bulannya bisa sampai dua kali lipat penghasilan saya. Lalu darimana sisa uang yang saya dapat untuk menutupi kesemuanya itu? wah, ya dari berbagai sumber. Tapi saya percaya tanpa campur tangan-Nya, itu semua tidak mungkin. Nah, ini salah satu alasan mengapa Tuhan tidak pintar matematika. Lha wong seharusnya neraca saya sudah njomplang kok masih bisa terus hidup.

Bukti kedua adalah kesaksian seorang teman. Ia mengaku kalau semenjak lajang, penghasilannya tidak jauh berbeda dengan sekarang. Anehnya, pada saat ia masih membujang, penghasilannya selalu pas. Maksudnya, pas akhir bulan pas uangnya habis. Anehnya, begitu ia berkeluarga dan memiliki anak, dengan penghasilan yang relatif sama, ia masih bisa menyisihkan uang untuk menabung.

Aneh bukan? Berarti kalau bagi manusia 1 juta dibagi satu sama dengan 1 juta dan 1 juta dibagi dua sama dengan 500 ribu, tidak demikian bagi Tuhan. Dari kesaksian teman saya, satu juta dibagi 3 sama dengan satu juta dan masih sisa. Betul kan bahwa Tuhan itu tidak pintar matematika?

Ah, saya cuma bercanda kok. Buat saya, kalau dilihat dari logika manusia Dia memang tidak pintar matematika. Mungkin murid saya yang kelas 2 SD lebih pintar dari Dia. Tapi satu hal yang harus digarisbawahi: MATEMATIKA TUHAN BEDA DENGAN MATEMATIKA MANUSIA. Saya tidak tahu dan mungkin tidak akan pernah sanggup mengetahui persamaan apa yang digunakan Tuhan. Tapi kalau boleh saya menggambarkan, ya kira-kira demikian:

X= Y
dimana
X = pemberian Tuhan
Y = kebutuhan

Ya, Tuhan selalu mencukupkan apapun kebutuhan kita. Tanpa kita minta pun, Dia sudah "menghitung" kebutuhan kita dan menyediakan semua lewat jalan-jalan- Nya yang terkadang begitu ajaib dan tak terduga.

Menyadari hal itu, saya bisa menanggapi cerita teman-teman yang "sukses" dengan penghasilan tinggi di luar kota dengan senyum manis. Soal penghasilan Tuhan yang mengatur. Untuk apa saya memusingkan diri dengan berbagai kekhawatiran sementara Dia telah menghidangkan rejeki di hadapan saya. Yang perlu saya lakukan hanyalah melakukan bagian saya yang tak seberapa ini sebaik mungkin, dan Ia yang akan mencukupkan segala kebutuhan saya.

-Peace-

Kamis, 19 Juni 2008

Anakku, Aku Tidak Ingin Sampai Kehilngan Engkau

Ada sebuah keluarga yang mempunyai empat orang anak laki-laki. Keluarga ini sangat berbahagia dan harmonis sekali. Setiap hari bapak, ibu beserta keempat anak laki-laki mereka selalu bergembira dan bersukacita. Setiap kali sang ayah pulang dari kantor, si ibu beserta keempat putranya selalu sudah siap menyambut sang ayah dengan penuh sukacita. Setiap malam mereka berenam selalu duduk bersama-sama di meja makan keluarga, saling membagi pengalaman masing-masing setelah seharian mereka melakukan aktifitas masing-masing. Kebahagian mereka itu rasanya tidak dapat diusik oleh siapapun juga.

Sampai suatu hari, sesuatu yang tidak diinginkan dan sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh mereka terjadi. Si bungsu yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) mengalami suatu kecelakaan dan meninggal seketika. Ketika berita duka ini sampai kepada ayah, ibu dan ketiga kakak laki-laki si bungsu tersebut, mereka sempat shock. Mereka seakan-akan tidak dapat menerima kenyataan yang telah terjadi. Mulai saat itu rumah mereka yang biasanya selalu dipenuhi dengan keceriaan mulai berganti dengan suasana dukacita yang sangat mendalam. Seluruh anggota keluarga seakan-akan terlarut dalam suasana berkabung yang mendalam. Yang kelihatannya paling terpukul dengan kematian si bungsu adalah sang ayah.

Ketika diadakan acara penguburan si bungsu, banyak orang yang datang untuk menyatakan rasa turut berdukacita atas kematian si bungsu. Setelah acara pemakaman selesai, sahabat baik sang ayah yang baru saja datang dari luar negeri berusaha menghibur sang ayah dengan kata-kata yang menguatkan. Berbagai cara ia lakukan setiap hari supaya dapat mengurangi kesedihan hati sang ayah, tetapi semuanya itu sia-sia saja. Sang ayah kelihatannya begitu terpukul dan sedih sekali dengan kematian putra bungsunya. Setelah merasa semua usahanya sia-sia akhirnya sang sahabat memutuskan untuk pulang kembali ke rumahnya di luar negeri .

Waktu seakan-akan berlalu dengan begitu cepat, tanpa terasa tahun berganti dengan tahun. Karena kesibukan di dalam pekerjaannya sang sahabat tidak sempat menelepon atau menulis surat untuk menanyakan keadaan sang ayah. Sepuluh tahun berlalu sudah sejak tragedi tersebut terjadi, ketika suatu hari sang sahabat ingat kembali peristiwa menyedihkan yang dialami sang ayah. Karena merasa sangat rindu untuk bertemu dengan temannya dan menanyakan keadaannya sekarang, sang sahabat memutuskan untuk mengunjungi temannya lagi seperti sepuluh tahun yang lalu. Dengan perasaan gembira sang sahabat menelepon temannya untuk memberi kabar bahwa ia akan mengunjunginya lagi dan minta dijemput di bandar udara.

Setelah melewati penerbangan yang jauh dan melelahkan akhirnya tibalah sang sahabat di kota yang dituju. Setelah turun dari pesawat dari kejauhan sang sahabat melihat sang ayah, istri dan ketiga anaknya sudah menunggu untuk menjemputnya. Dengan perasaan gembira kedua sahabat ini bersalaman dan berpelukan sambil menanyakan keadaan mereka masing-masing.

Beberapa saat kemudian mereka telah tiba di rumah yang dihuni keluarga sang ayah. Setelah sepuluh tahun tidak melihat rumah temannya, sang sahabat agak asing dengan rumah tersebut. Ia melihat banyak sekali perubahan telah terjadi atas bangunan rumah tersebut. Interior luar dan dalam rumah beserta perabot-perabotnya semuanya telah berubah sama sekali. Rumah sang ayah sekarang kelihatannya lebih bagus dan nyaman. Dengan senang dan bangga sang ayah mulai mengajak sahabatnya untuk melihat-lihat rumahnya yang sudah di renovasi tersebut. Ruangan demi ruangan ia tunjukkan kepada sahabatnya tersebut. Sang sahabat semakin terheran-heran melihat perubahan atas setiap ruangan yang ada. Semuanya tidak ada yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu, semuanya telah berubah.

Akhirnya sampailah sang ayah Dan sahabatnya di ruangan belakang rumah yang merupakan tempat untuk bersantai semua anggota keluarga. Karena sang sahabat merasa lelah akhirnya mereka berdua duduk di kursi sofa keluarga yang nyaman sambil terus bercakap-cakap. Saat itu tiba-tiba pandangan mata sang sahabat tertuju ke salah satu sudut yang ada di ruangan itu. Lama ia terus menatap sudut ruangan itu sambil terdiam, sampai sang ayah bertanya kepadanya apa yang ia pikirkan

Dengan rasa penuh ingin tahu sang sahabat mulai bertanya: "Temanku aku sudah melihat-lihat setiap ruangan yang ada di rumahmu dan ternyata semuanya mengalami perubahan dan renovasi, tidak ada satu ruangan pun yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Tetapi aku heran sekali kenapa ruangan itu kelihatannya masih tetap sama seperti sepuluh tahun yang lalu dan tidak ada perubahan sama sekali?", kata sang sahabat sambil menunjuk jarinya ke pintu kamar si bungsu.

Kemudian ia berkata lagi: "Sepuluh tahun yang lalu ketika anakmu yang bungsu meninggal engkau begitu sedih sekali, tetapi mengapa sampai sekarang kamar si bungsu masih engkau biarkan tetap ada dan tidak berubah seperti sepuluh tahun yang lalu, bahkan di pintu kamarnya masih tetap tertulis nama anakmu yang sudah meninggal tersebut? Bukankah hal ini justru akan membuatmu selalu teringat kepadanya dan akan membuatmu semakin sedih?

Apakah sebaiknya tidak engkau renovasi saja dan ganti untuk sesuatu yang lain kamar sibungsu ini? Sebaiknya tidak usah dipikirkan lagi semua kejadian yang sudah berlalu. Bukankah engkau masih mempunyai tiga orang anak laki-laki lainnya yang begitu baik dan sekarang sudah besar-besar? "

Mendengar pertanyaan sang sahabat, raut muka sang ayah yang tadinya gembira seketika berubah. Sambil menitikkan air mata sang ayah berkata : "Memang benar aku masih mempunyai tiga orang anak laki-laki yang lain. Mereka bertiga itu begitu baik, taat dan mencintai aku tetapi bagaimanapun juga anakku tetap empat orang. Meskipun si bungsu sudah meninggal tetapi dia adalah tetap anakku dan sampai kapanpun juga aku tetap tidak akan pernah bisa melupakan dia. Meskipun ia sudah meninggal tetapi ia tetap akan selalu hidup di dalam hatiku. Sampai sekarang setiap kali aku memikirkan dia aku selalu sedih, aku merasa sangat kehilangan dia."

Cerita ini mengambarkan betapa besarnya kasih sayang seorang ayah duniawi kepada anaknya yang sudah meninggal. Kalau ayah duniawi saja yang penuh dengan kelemahan bisa sampai begitu sa yang kepada anaknya apalagi Bapa Surgawi kita yang sempurna pasti Dia jauh lebih menya yangi lagi kita setiap anak-anakNya. Yohanes 3:16 mengatakan "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Bapa Surgawi kita begitu mengasihi kita sampai-sampai ia tidak ingin kita terpisah dariNya dan kehilangan kita anak-anakNya. Seperti sang ayah di dalam cerita tersebut yang begitu kehilangan anaknya yang bungsu demikian juga dengan Bapa Surgawi kita, Dia akan sedih sekali dan merasa kehilangan kita jika kita sampai men yang kali Dia.

Sadarkah saudara bahwa setiap kali saudara berbalik dan undur dari padaNya hal tersebut begitu menyakitkan Tuhan, apalagi jika saudara sampai men yang kal Yesus dan murtad, itu seperti menghancurkan hati Bapa Surgawi kita karena Dia akan kehilangan saudara sampai selama-lamanya. Karena itu apapun yang terjadi di dalam hidup saudara jangan sampai saudara men yang kal nama Yesus dan meninggalkan Tuhan.

Dia berkata: "AnakKu Aku sangat mengasihimu. Begitu besarnya kasihKu padamu sampai Aku rela memberikan Yesus, AnakKu yang Kukasihi untuk menebus dosa-dosamu. Begitu dalamnya kasihKu padamu sampai Aku memilih untuk menjadi Bapa Surgawimu dan memilih engkau untuk menjadi anakKu. Aku melakukan semuanya itu karena Aku ingin selalu bersama-sama dengan engkau sampai selama-lamanya. Aku tidak ingin kehilangan engkau. Aku sudah menyediakan tempat untukmu di surga supaya kita bisa selalu bersama-sama untuk selamanya. Sudah berulang kali hatiKu disakiti dan dihancurkan oleh anak-anakKu yang men yang kali nama Yesus dan murtad.

Tegakah engkau melukai hatiKu sekali lagi?"

Kalau saudara benar-benar mengasihi Tuhan, saya percaya saudara dapat menjawab pertanyaan Bapa Surgawi ini!

"Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (Roma 8:35,39)

Senin, 28 April 2008

PERNIKAHAN YANG BERHASIL

Untuk membangun pernikahan yang berhasil dibutuhkan beberapa faktor pendukung antara lain:

1. Saling Mendengarkan
Kelemahan terbesar dalam berkomunikasi dengan pasangan adalah terlalu cepat memberikan jawaban. Jadilah pendengar yang baik terhadap pasangan anda, tanpa memberikan tanggapan yang terlalu cepat. Mendengarkan cerita pasangan dapat menekan pertengkaran dan melanggengkan pernikahan.

2. Saling Menyentuh
Pengamatan saya dalam masyarakat,hal ini jarang dilakukan bila usia pernikahan sdh mencapai 5 tahun keatas. Tetapi ada juga pasangan yang berhasil,dimana mereka saling menyentuh, berangkulan, berpelukan, saling melingkarkan lengan, duduk bersentuhan saat menonton TV. Pasangan terlihat mesra dan bahagia. Sentuhan yang tidak bersifat seksual menuntun kepada keintiman yang murni.

3. Saling Memberi Semangat Lewat Kata-kata
Memberi semangat adalah makanan bagi hati. Setiap pasangan memiliki simpanan emosi.Kita harus memberi semangat bila melihat pasangan kita bersungut-sungut setelah pulang kerja atau memberi dorongan saat mereka sedih. Pasangan yang berhasil menciptakan lingkungan yang positif. Mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengungkapkan rasa syukur. "Saya suka caramu menata rambutmu". "Masakanmu enak” Pujian yang jujur, bukan dibuat-buat supaya pasangan senang. Itu sama dengan munafik

4. Saling Menerima Tanpa Syarat
Cinta penerimaan tanpa syarat adalah dasar yang penting dalam pernikahan yang berhasil. Kebutuhan paling kuat dari pria/wanita adalah saling dan sungguh2 peduli. Mereka tidak akan merasa ditolak jika mereka tidak memenuhi seperangkat standard. Mereka saling menerima kekurangan dan kelebihan pasangan.

5. Saling Berkomitmen
Kata "perceraian" dilarang untuk diucapkan, tidak jadi soal seberapa kecewanya atau marahnya salah seorang dari mereka. Mereka harus membuat kesepakatan bagaimana "bertengkar secara adil" didalam situasi penuh damai. Mereka berusaha membiarkan hal2 kecil berlalu, berkomitmen yang aktif untuk menginginkan yang terbaik bagi pasangannya, membantu mereka bertumbuh sebagai seorang pribadi.Pastikan untuk saling berdoa.

6. Habiskan Waktu Bersama-sama
Pasangan yang berhasil, menghabiskan waktu bersama-sama, mengembangkan minat bersama berolahraga, membaca Alkitab atau berbagai permainan.

7. Keuangan Diurus Bersama Untuk Masa Depan
Masalah keuangan menciptakan lebih banyak stress dalam pernikahan dibandingkan ancaman lain dari luar. Jauhkan pemborosan dan berhematlah untuk masa depan.
Gaya kehidupan pasangan memegang peranan penting, karena menyangkut materi yang harus dikeluarkan. Bila kita bersikap selebrities, padahal keuangan tidak mendukung, ini memaksa pasangan berhutang untuk memenuhi seleranya. "Berhutang itu bodoh". Hidup hemat adalah kehendak Tuhan,tetapi hidup boros membawa kesengsaraan. Jangan disamakan,"hemat itu kikir" Hemat adalah tidak keberatan mengeluarkan dana untuk kepentingan diri sendiri, tetapi kikir itu, sangat sulit mengeluarkan dana untuk kebutuhan diri sendiri.

8. Saling Tertawa Bersama.
Obat bagi kebosanan dalam pernikahan adalah humor segar. Jika pasangan anda menceritakan yang lucu, tertawalah. Jika diantara pasangan anda tidak ada yang lucu, sebaiknya menonton film-film lucu dan hadir diantara teman2 yang lucu.

9. Jadilah Sahabat Terbaik Bagi Pasangan
Satu2nya yang dapat anda andalkan sepenuhnya adalah pasangan anda. Jadikan pasangan anda sebagai prioritas utama. Pasangan yang berbahagia berpegang untuk menghabiskan waktu bersama-sama sebagai sahabat. Saling berbagi rahasia. Saling menikmati keberadaan, sebab mereka adalah"satu daging"

Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6)