Rabu, 12 November 2008

SEMANGKUK NASI PUTIH

Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir didepan sebuah rumah makan cepat saji di kota metropolitan, menunggu sampai tamu direstoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk kedalam restoran tersebut.

“Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih.” Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.

Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.

Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan :”dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya.”

Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum : ”Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !”

Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : “kuah sayur gratis.” Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.

“Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya.” Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.

“Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !”

Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini tentu dari keluarga miskin diluar kota, demi menuntut ilmu datang kekota, mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti. Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh sepotong daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan memberikan kepada pemuda ini.

Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini, hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan dibawah nasi ? Suaminya kemudian membisik kepadanya :”Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ketempat lain hanya membeli semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah.”

“Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya.”

“Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi istriku ?”

Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.

“Terima kasih, saya sudah selesai makan.” Pemuda ini pamit kepada mereka.

Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.

“Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !” katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.

Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus untuk bekal keesokan hari. Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.

Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih, pemerintah melayangkan sebuah surat bahwa rumah makan mereka harus digusur, tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan diluar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini berpelukan menangis dengan panik. Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.

“Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan.”

“Siapakah direktur diperusahaan kamu ?, mengapa begitu baik terhadap kami? saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !” sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.

“Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu, yang lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya.”

Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul, setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses untuk kerajaan bisnisnya. Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.

Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya. Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk dalam-dalam berkata kepada mereka :”bersemangat ya ! dikemudian hari perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !”

Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan. (Sumber epochtimes.com/ h)

Matius 25 : 37-40
37] Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?
38] Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?
39] Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?
40] Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.
SAYA INI CUSTOMER SERVICE OFFICER !

Suatu saat sepulang tugas dari luar kota (utk refreshing) saya membaca humor di majalah Reader's Digest yg salah satu isinya sbb:

"Ada seorang ibu dari satu kota kecil sedang bepergian ke kota besar dan masuk ke salah satu toko swalayan yg sangat besar. Segera saja dia asyik berbelanja dan tak lama keranjangnya sudah penuh. Ketika hendak membayar, dia kesulitan mencari letak cassa/kasir toko tsb. Kebetulan dia melihat ada seorang yg berpakaian seragam toko itu dan bertanya:" Maaf bu, kasirnya dimana ya ?" Sambil menatap si ibu yg bertanya si pegawai menjawab: " Maaf ya, saya bukan kasir. Saya ini Customer Service Officer !!" sambil meninggalkan si ibu yg kebingungan."

Saya tertawa seru membaca betapa ironinya si CSO tadi. Ngaku CSO tapi tdk bisa memberi service yg baik. Namun dalam suasana hati yg tertawa itu ada suatu suara halus dari batin saya yg berbunyi : "... kok kamu tertawa...??? yang kamu ketawakan itu siapa ???" Saya langsung kaget dan terdiam. Di dalam hati dan pikiran saya mulai mengalir suara halus tadi lagi bahwa betapa saya juga persis seperti si CSO tadi. Saya hanya pakai "seragam/status" kekristenan/orang percaya/anak Tuhan, tapi apakah saya sudah berbuat utk banyak orang yg juga sedang bertanya dan mencari jalan ke "kasir" (baca Hidup Kekal).

Dalam suasana hati tertempelak itu juga terus mengalir permenungan saya, bahwa betapa selama ini saya belum tersadarkan siapa saya dan status saya sesungguhnya di hadapanNYA ( Mat 5: 13-16; I Petrus 2:9) dan juga sering lalainya saya menjalankan fungsi saya ( Mat 22:37-39 ; 28:19-20).

Selanjutnya saya juga diingatkan bahwa dalam hidup ini sebenarnya kita juga ada pakai banyak "seragam" lain apakah sbg ayah, anak. atasan, karyawan atau yg lainnya (atau yang lebih gawat lagi bagi yang sibuk banget "fashion show" seragam nya tadi sambil ngaku paling cakep dan gaya sendiri sembari ngoyo utk cela dan kritik "seragam" orang lain jelek, ndak pantas ,dll lah). Pertanyaannya sudahkan saya menjalankan tugas saya sesuai dengan seragam yg saya pakai ???

GBU all.
Diposting oleh VINCENTIUS.OEI

Senin, 10 November 2008

Sejauh Mana Seorang Motivator Bisa Menolong Anda?

Ada sebuah fenomena menarik dalam dunia perseminaran. Terutama seminar-seminar motivasi. Para motivator hebat berusaha keras mencurahkan segenap kemampuannya dalam memotivasi perserta. Dan tentu saja, begitu banyak yang termotivasi sehingga sering terjadi keriuhan luar biasa didalam ruangan seminar itu. Semakin lihai sang pembicara membawakan materi trainingnya, semakin terbakarlah semangat mereka. Dan disore hari, seminar itu pun berakhir. Keesokan paginya semangat itu masih ada dalam dada para peserta. Seminggu berikutnya, masih cukup banyak yang tersisa. Waktu sebulan berjalan, masih lumayan. Sekuartal berlalu, sudah sebagian besar yang tanggal. Padahal. Bukankah tujuan membayar dan mengikuti seminar itu adalah untuk menjadikan diri kita lebih handal? Tapi, apakah itu mungkin jika semua pelajaran dan semangat yang didapat menguap secepat kilat?

Ada banyak bukti bahwa seminar motivasi sering tidak meninggalkan bekas yang berarti. Meskipun perusahaan sudah mengeluarkan uang banyak, namun para karyawan yang dikirim ke seminar itu tidak menunjukkan perubahan yang signifikan kecuali untuk jangka waktu yang singkat saja. Perilaku dan sikap mereka kembali `normal' tak lama kemudian. Mungkin memang benar, bahwa ada begitu banyak faktor penyebabnya. Tidak perlu dipungkiri bahwa kualitas dan teknik yang digunakan oleh para motivator merupakan salah satunya. Faktor kedua adalah, dukungan lingkungan perusahaan itu sendiri. Seseorang yang saya kenal dengan sangat dekat berkata:"Gue sudah diikutkan training yang canggih-canggih. Tapi begitu gue presentasikan proposal program kepada para boss, eeeh, mereka malah mengatakan bahwa this company doesn't need such sophisticated project…." Orang ini sudah terbang ke berbagai negara, menempa diri nyaris tanpa henti, dan belajar dari cukup banyak profesor. Tetapi, perusahaan tidak memiliki lahan yang cukup subur untuk memungkinkan benih-benih inovasi hasil dari proses belajarnya tumbuh optimal.

Faktor ketiga tentu saja ada disisi karyawan atau peserta training itu sendiri. Saya sering bertanya-tanya; apa yang menyebabkan seorang karyawan dan peserta training seperti kita ini hanya sanggup mengingat dan menyerap semangat dalam rentang saat yang teramat singkat? Begitu banyak orang yang percaya bahwa semuanya itu bermuara kepada sesuatu yang disebut sebagai `follow up'. Oleh karena itu, tidak terlampau mengejutkan jika saat ini banyak lembaga training, motivator dan trainer yang menawarkan program follow up pasca seminarnya. Dan perusahaan yang percaya bahwa follow up itu penting, bersedia membayar program tambahan itu dengan harapan bahwa para karyawan bisa benar-benar menuangkan apa yang dipelajarinya didalam karya nyata kehidupan kerjanya sehari-hari. Lalu, apakah usaha itu membuahkan hasil? Masih harus kita kaji lebih lanjut. Mengapa? Karena, segera setelah program follow up tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun itu berakhir, maka nyaris berakhir pulalah bekas yang ditimbulkannya. Menurut seorang teman, memang sudah hukumnya begitu; pelajaran yang didapat dari sebuah seminar hanya bakal nyantol sekilas, laksana mobil yang melintas dijalan tol. "Lagipula, yang pantas memikirkan hal begituan itu ya para motivator dan perusahaan," katanya. "Bukan karyawan seperti kita-kita ini."

Memang, ini bukan tempat yang tepat untuk membahas faktor pertama, karena adalah diluar jangkauan kita untuk mengomentari para motivator. Sebab, setiap motivator memiliki gaya, teknik, dan kemampuan tersendiri. Meskipun tak jarang yang meniru orang lain, namun keunikannya sebagai individu cukup menjadi bekal bahwa setiap motivator itu juga unik. Juga, bukan wewenang kita mencampuri kebijakan perusahaan yang tidak sungguh-sungguh menyiapkan ruang dan kesempatan tempat tumbuhnya gagasan-gagasan dan sistem nilai baru yang dibawa karyawannya sebagai oleh-oleh. Tapi barangkali, sebagai teman seperjalanan dalam proses bertumbuh dan berkembang ini, kita bisa saling berbagi dalam menemukan jalan terbaik untuk mengoptimalkan proses belajar kita selama ini. Supaya benar-benar ada manfaat nyata bagi kehidupan kita.

Suatu waktu, istri saya mengatakan; "Kamu terlalu banyak berpikir, chayank." Ketika itu saya masih terperangkap dihadapan layar monitor lap top, sedangkan dia sudah siap dengan perlengkapan fitness-nya. "Sekarang ikut aku ke fitness center," katanya. Dan seperti kerbau dungu yang dicocok hidungnya, saya menurut saja. Karena memang sudah sangat lama kegiatan olah raga saya tidak lagi teratur, meskipun sangat menikmatinya. Itu bisa menjadi alternatif hiburan lain selain cream-bath di bioskop dan nonton di salon. Aih, terbalik ya? Cream-bath di salon dan nonton di bioskop. Wah, boleh juga tuch kalau membuka salon yang menyediakan personal LCD untuk memutar film box office saat menjalani cream-bath, dan didalamnya dilengkapi fasilitas fitness. (Ting…!)

Saya hendak berpindah ke area treadmills saat mata saya menempel di permukaan sebuah dinding. Ada dua buah kalimat yang sangat menarik tertulis disitu. Sungguh, saya tidak pernah merasa bosan untuk menikmati sensasi yang ditimbulkan kedua kalimat itu. Setiap kali saya datang dan membacanya, selalu ada semangat baru yang tumbuh didalam diri saya. Jadi, tidak peduli berapa kali saya melihatnya, saya tidak pernah merasa bosan membacanya. Dan kalimat itu berbunyi; `Motivation is what gets you started'. Untuk memulai melakukan hal besar, kita membutuhkan sesuatu yang memotivasi. Masalahnya, sebuah proyek besar atau perubahan perilaku tidak hanya bisa diselesaikan dengan sekedar memulainya. Melainkan dengan menjalaninya secara konsisten, hingga tujuan kita tercapai. Dan sepertinya kita sudah tahu bahwa para motivator disetiap seminar hanya bisa mengantarkan anda kepada tahap memulai. Jadi, tidak heran kalau begitu banyak orang yang menggebu-gebu saat keluar dari ruang seminar, dan melempem lagi di keesokan harinya.

Orang-orang antusias mempunyai trik tersendiri, yaitu; terus mengejar kemanapun dan dimanapun sang motivator menyelenggarakan seminarnya. Dengan cara itu, mereka bisa mempertahankan motivasinya agar tetap tinggi. Masalahnya, jika waktu kita dihabiskan untuk membuntuti dan mendengar mereka bicara, kapan kita bertindaknya? Lagipula, apakah kita akan terus-menerus bergantung pada sang motivator? Jika uang anda tidak cukup untuk membayar ongkos seminarnya, apakah anda masih bisa mengikuti sesi-sesinya?

Selain itu, kita perlu menerima kenyataan bahwa motivator juga manusia. Ada kalanya mereka salah. Kadang mereka terlalu sibuk untuk menerima telepon penuh rasa ingin tahu anda. Atau sekedar menjawab email anda. Jika demikian, bukankah perjalanan kita menuju pertumbuhan bisa terancam? Jadi, adakah alternatif lain selain yang itu? Tentu saja ada! Tahukah anda, bagaimana caranya? Cari motivator lain yang tidak akan pernah menomor duakan anda. Yang tidak peduli apakah saat itu anda memiliki uang atau tidak. Yang bersedia mendengarkan apapun keluhan anda. Dan yang selamanya ada disisi anda. Emangnya ada motivator seperti itu? Sebelum saya menjawabnya; maukah anda menyebut motivator yang seperti itu – jika ada – sebagai motivator sejati kelas wahid? Ya, anda tentu setuju bahwa motivator yang macam itulah yang pantas mendapatkan gelar bergengsi itu. Sebab, hanya dia yang bersedia melakukan segalanya untuk anda.

Apa tadi pertanyaan anda? `Emangnya ada motivator seperti itu?' Saya bilang; ADA! Percayalah. This kind of motivator really exists here on the earth! Tahukah anda siapa dia? Dia adalah orang yang paling dekat dengan anda. Pacar? Bukan. Istri? Bukan. Anak-anak anda? Juga bukan. Jadi siapa? Anda benar; `diri anda sendiri'. Jika anda mampu menjadikan diri sendiri sebagai motivator utama dalam hidup anda, maka anda sudah mendapatkan the true motivational source. Dan. Itulah. Yang biasa. Kita sebut. Sebagai. Internal motivation.

Selama diri anda ada, maka selama itu pula anda termotivasi. Selama itu juga anda bersedia meneruskan perjalanan untuk bertumbuh kembang. Dan, tepat disaat anda secara konsisten mampu menjalaninya, semua berubah menjadi sebuah kebiasaan. Dan, tepat disaat sesuatu menjadi kebiasaan, anda mulai merasakan segalanya berjalan secara otomatis. Tanpa paksaan. Tanpa keharusan. Tanpa perlu energi fisikal
dan emosional yang besar. Persis seperti bunyi selanjutnya dari kalimat yang tertulis didinding fitness center itu, bahwa: `Habit is what keeps you going'. Mengapa? Karena anda, baru saja mencapai sebuah tatanan baru yang disebut sebagai unconscious competence. Dan itulah saat dimana anda secara sempurna berhasil mengadopsi suatu perilaku, atau keterampilan baru.

Lima juta tahun yang akan datang, kita semua akan menjadi fosil. Seorang arkeolog dijaman itu menemukan puing-puing bangunan fitness center itu. Dan didinding bangunan itu, mereka menemukan sebuah tulisan kuno. Dan. Ketika diterjemahkan, tulisan itu berbunyi; `Motivation is what gets you started. Habit is what keeps
you going'. Motivasilah yang mampu mendorong anda untuk memulai sesuatu. Sedangkan kebiasaan menjadikan anda untuk terus bertahan dijalur itu, hingga anda sampai kepada tujuan hidup yang ingin anda wujudkan. Dalam setiap seminar tentang arkeology dan antropology yang diselenggarakannya; sang arkeolog selalu menyampaikan pesan dididing fitness center kuno itu. Sebab, dia percaya bahwa; jika anda berhasil menjadikan diri anda sendiri sebagai motivator pribadi. Dan anda berhasil membangun kebiasaan-kebiasaan positif yang bisa menjamin anda terus bertahan dalam setiap perjuangan hidup. Maka. Anda benar-benar telah menjadi. Manusia modern. Yang
sangat handal. (Dadang Kadarusman)

Catatan Kaki:
Tidak ada motivator yang lebih baik dari diri anda sendiri. Hanya saja, anda sering tidak mendengar nasihat-nasihatnya.
Benarkah Anda Bisa Melakukan Apapun Juga?

Salah satu impian terbesar umat manusia adalah; bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Untungnya, orang-orang hebat sering mengatakan;"Anda bisa melakukan apa saja!". Sangat mudah untuk menyerap nasihat itu karena kedengarannya bisa mengantar kita kepada mimpi terbesar itu. Tidak heran jika kemudian didalam hati kita ada sebuah ukiran indah berbunyi: "Aku bisa melakukan apa saja!". Uuuh, kedengarannya ini bisa menjadi bukti pencapaian tertinggi umat manusia. Karena, jika kita bisa melakukan apa saja; maka tercapai sudah segala impian itu. Tapi, benarkah anda bisa melakukan apapun juga?

Anda yang pernah menonton film The Land Before Time, tentu ingat tujuh sekawan hewan purba kecil yang bersahabat. Littlefoot si anak Apatosaurus berleher panjang menjadi pusat persahabatan itu. Cera si anak Triceratops, badak purba bercula tiga yang juga disebut sebagai Trihorn. Ducky si anak Saurolophus sang nenek moyang bangsa bebek. Petrie, si anak Pteranodon yang merawisi masa depan para burung. Spike si Stegosaurus sang leluhur buaya. Ruby si Oviraptor cilik. Dan Chomper anak Tyrranosaurus yang memilih untuk bersahabat dari pada harus memakan teman-temannya.

Ayah Cera yang raja Trihorn menasihatkan sebuah pelajaran penting. "Cera," katanya. "Trihorn itu adalah mahluk terhormat dan paling hebat. Karena," lanjutnya. "Kita keluarga Trihorn bisa melakukan apa saja!" Suaranya yang besar dan menggelegar menggema ke seluruh penjuru rimba purba. Sedangkan didalam dada Cera, nasihat itu
menjelma menjadi semangat yang membara. Yang menjadikan dirinya begitu percaya bahwa; Seekor Trihorn seperti dia, bisa melakukan apa saja.

Pada suatu ketika, ketujuh sekawan mengadakan perlombaan yang unik. Yaitu, berdiri diatas sebatang kayu yang terapung diair. Siapa yang paling lama berdiri diatasnya, dialah pemenangnya. Littlefoot, tidak ikut bertanding. Dia memilih untuk menjadi pendukung para kontestan yang sedang berlomba. Karena dia tahu, binatang besar berkaki empat seperti dia tidak dirancang untuk melakukan hal semacam itu. Sedangkan Cera yang juga besar dan berkaki empat? Dia tahu bahwa seekor Trihorn bisa melakukan apa saja. Persis seperti yang selalu dikatakan oleh ayahnya.

Sebelum pergi, Cera berpamitan kepada Ibunya. "Ibu, aku mau bermain sama teman-teman." katanya. "Akan aku menangkan pertandingan itu, karena seekor Trihorn bisa melakukan apa saja!" Semangat itu tentu membuat kedua orang tuanya bangga. Terutama sang ayah yang telah berhasil menjadikan anaknya seorang pemikir positif, penuh percaya diri, dan selalu optimis. Tapi, ibunya penasaran dan bertanya;"Kalian mengadakan perlombaan apa kali ini, Cera?".

Pertanyaan itu menghasilkan sebuah jawaban yang sangat mengejutkan. Sampai-sampai, Ayah yang sedang mengasah tanduknya berhenti dan berteriak; "Perlombaan macam apa itu, Cera?" suaranya menggetarkan dada. "Kamu tidak boleh ikut perlombaan itu!" seraya berlari menghampirinya.

"Mengapa aku tidak boleh ikut berlomba, Ayah?" tanya Cera. "Aku ingin memenangkan pertandingan itu..." lanjutnya.

"Itu permainan yang sangat berbahaya!" jawab Ayah dalam suara tinggi erbalut cemas.

"Ayah, bukankah Ayah bilang seekor Trihorn bisa melakukan apa saja?" Cera membalas diantara kebingungan dan kekecewaan.

"I, Iyya, tapi..." Ayah terlihat ragu-ragu. "Tapi, berdiri diatas sebatang kayu yang terapung diair sungai yang deras bukanlah salah atunya...."

"Maksud Ayah..." kata Cera. "Seekor Trihorn tidak bisa melakukannya?" Jelas sekali dia kecewa. Namun, sekuat apapun Ayah menghalanginya, dia tidak bisa dihentikan. Ayah, tidak bisa semudah itu menghapuskan pelajaran yang sudah ditanamkannya didalam diri Cera. Sebab, pelajaran itu, benar-benar diserap, diyakini dan dijiwai olehnya. Hingga dia mengira bahwa memang seekor Trihorn bisa melakukan apa saja.

Kita, para manusia juga demikian. Begitu bertubi-tubinya pelajaran yang meyakinkan kita bahwa kita ini bisa melakukan apa saja. Jika kita mau. Pelajaran itu sungguh-sungguh kita dengarkan. Kita resapi didalam hati. Dan kita jadikan tenaga yang menggelora untuk menyemangati hidup. Namun seperti pengalaman Cera, ada banyak situasi dimana kita harus dihadapakan pada kenyataan bahwa tidak segala hal bisa kita lakukan. Itu membuat kita kebingungan; bukankah para guru motivasi saya mengatakan bahwa saya bisa melakukan apapun juga? Sekarang saya ingin melakukan ini, namun sekuat apapun saya berusaha, ternyata saya tidak bisa jua.

Ketika Cera pada akhirnya tenggelam dan hanyut terbawa arus sungai yang deras. Ayahnya menyadari bahwa kepada para pembelajar, tidak seharusnya dia meyakinkan bahwa mereka bisa melakukan apa saja yang mereka inginkan. Bukan. Bukan itu. Sebab, seekor Trihorn tidak didisain Tuhan untuk menjadi perenang hebat. Atau penerbang ulung. Seekor Trihorn, dirancang untuk menjadi dirinya sendiri. Mengenali potensi diri sejati yang dimilikinya. Lalu, menggunakan kemampuan itu untuk menjalani hidupnya. Dan. Itu tidak berarti melakukan apa saja yang diinginkannya. Melainkan, untuk. Menjalani fitrahnya. Mengikuti kodratnya. Memaknai keberadaan dirinya. Melalui aktualisasi atas kapasitas diri itu.

Cera, bukanlah satu-satunya pembelajar penuh semangat yang haus akan pencerahan itu. Ada jutaan Cera lain yang merindukan pengarahan yang benar tentang apa yang patut dilakukan dalam hidupnya. Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia mengatakan bahwa; kita bukanlah mahluk yang bisa melakukan apa saja. Tapi, kita bisa meraih kesuksesan hidup dengan melakukan apa saja yang sesuai dengan kemampuan dan kapasitas diri kita seutuhnya. Yaitu, ketika kita menjadi manusia yang bersedia mengakui betapa kita ini bukan mahluk yang sempurna. Namun, dibalik kesadaran akan ketidaksempurnaan itu, tumbuh keyakinan bahwa; Tuhan sudah menghadiahi kita dengan kemampuan untuk menjalani sebaik-baiknya hidup. (Dadang Kadarusman)

Catatan Kaki:
Ada dua alasan mengapa kita tidak perlu bisa melakukan segala hal.
Pertama, diri kita tidak didisain untuk menjadi mahluk yang serba
bisa. Dan kedua, kesuksesan bukanlah milik mereka yang bisa melakukan
segala hal; melainkan kabar baik bagi orang-orang yang bersedia
memberdayakan diri.

Jumat, 24 Oktober 2008

Seberapa Besar Kapasitas Aktual Diri Anda?

Disekitar kita; begitu banyak orang hebat yang mengagumkan. Mereka memiliki kemampuan diatas rata-rata. Sehingga terlihat unggul dari manusia lainnya. Ketika dihadapkan pada suatu pekerjaan atau tugas tertentu, mereka selalu bisa menyelesaikannya dengan lebih baik dari orang lain. Ketika mereka dihadapkan pada situasi sulit tertentu, mereka selalu bisa menangani kesulitan itu dengan lebih baik dari orang lain. Ketika prestasi mereka dievaluasi, track record-nya lebih cemerlang dari kebanyakan orang. Seolah-olah, mereka benar-benar manusia paling ideal untuk pekerjaan yang ditanganinya. Itu membuat kita bertanya; "Mengapa Tuhan memberikan talenta begitu hebatnya kepada dia? Sedangkan kepada saya tidak. Jika saya diberkahi kemampuan yang seperti itu, pasti saya akan berprestasi seperti orang itu." Benarkah demikian?

Beberapa waktu lalu, saya merasakan bahwa kemampuan lap top saya sudah menurun sangat jauh sekali dari sebelumnya. Padahal, dia menggunakan processor yang pasti memadai untuk mendukung kinerja seorang perofesional. Kinerjanya yang semakin memburuk membuat saya tidak mampu menyembunyikan ketidaksabaran ini, sampai-sampai boss saya memergoki dan bilang; "Be patience Dadang, it is still processing…" katanya. "She has to perform faster if she still wants to work with me," saya menyahut. Tapi, kecaman saya tidak membuatnya bekerja lebih cepat. Padahal, saya sudah melakukan clean disk, dan juga defrag. Akhirnya, minggu lalu saya mengirim memo kepada teman-teman di BT, bahwa saya mau lap top yang bisa bekerja lebih cepat.

Tak lama kemudian, lap top itupun masuk ke dalam klinik untuk diperiksa para dokter spesialis computer, sebelum kembali keruang kerja saya beberapa jam berikutnya. Tahukah anda, bagaimana kinerjanya sekarang? Wuish, she runs like a flash! Sampai-sampai saya terkejut dibuatnya. Sehingga saya tidak sabar untuk bertanya;"Man, elo apain tuch lap top gue?"

Teman BT saya berkata;"Ditambah RAM-nya jadi dua kali lipat, Pak."
"Cuma begitu doank?"
"Iya. Hanya itu." Jawabnya.
Saya tahu dia bangga dengan hasil kerjanya. Dan saya sangat menghargai usahanya.
"Nggak elo ganti processornya?"
"Nggak Pak," katanya. "Masih bagus, kok." Lanjutnya.

Saat itu saya menyadari, bahwa processor adalah potensi atau kapasitas maksimal tentang apa yang bisa dilakukan oleh sebuah computer. Dalam diri manusia, itulah yang biasa kita sebut sebagai talenta atau bakat, alias kapasitas terpendam dalam diri seseorang.

Dalam computer, fungsi processor itu penting pada saat komputer sedang diaktifkan untuk bekerja. Ini menentukan sampai sejauh mana fungsi computer itu bisa dimaksimalkan. Bagi manusia, fungsi talenta itu penting pada saat kita sedang bekerja atau melakukan suatu aktivitas. Ini menentukan sampai setinggi apa kita bisa berprestasi.

Sekarang, RAM itu apa? Mengapa meningkatkan RAM dua kali lipat bisa menaikkan kinerja processor computer itu sedemikan bermaknanya? RAM adalah sebuah playing ground. Tempat dimana file-file ditarik dari hard disk dan siap untuk diaktifkan. Dioperasikan. Diolah. Dieksekusi. Ditambah gambar ini dan itu. Meskipun kemampuan prosesornya tinggi, namun jika RAM-nya terlampau kecil untuk menampung file-file yang sedang diaktifkan, maka kinerja computer itu akan menjadi sangat buruk. Dia tidak bisa menjadi computer canggih. Manusia juga demikian. Meskipun talentanya besar. Potensi dirinya tinggi. Namun, jika kapasitas playing ground-nya terlampau kecil untuk menampung seluruh potensi diri itu, maka kinerjanya akan buruk juga. Dia tidak akan bisa menjadi manusia unggul.

Ngomong-ngomong, bukankah kita seringkali berbangga hati dengan menyebutkan bahwa; "manusia adalah super computer?" Jika klaim itu benar adanya; bukankah seharusnya kita bisa lebih hebat dari computer tercanggih sekalipun? Mungkin itu benar jika konteks yang kita maksud adalah talenta atau potensi diri yang kita miliki. Sebab, kita percaya bahwa kemampuan otak kita saja konon baru digunakan tidak sampai 5% saja. Tetapi, jika kita berbicara tentang actualized individual potential, maka kita harus bertanya ulang. Mengapa? arena, kita sudah bertemu dengan begitu banyak orang yang sesungguhnya sangat berbakat, namun pencapaiannya tidak sampai kemana-mana. Sebab, orang-orang ini telah membiarkan playing ground-nya menjadi begitu kecil.

Pertanyaannya sekarang adalah; bagaimana caranya memperbesar playing ground diri kita? Ada banyak cara. Satu, melatih diri untuk sesuatu yang lebih tinggi. Berapa banyak dari kita yang bersedia menantang diri sendiri untuk menguasai keterampilan-keterampilan baru? Kenyataannya kita sudah cukup puas dengan kemampuan yang kita miliki saat ini. Melatih diri untuk sesuatu yang baru itu menguras tenaga. Membutuhkan waktu. Dan memerlukan komitment. Mengapa kita harus bersusah payah begitu jika kita sudah puas dengan keadaan sekarang?

Dua, meninggalkan comfort zone. Ada banyak peluang baru dalam jarak setengah sentimeter dari diri kita. Namun, untuk meraihnya kita harus bersedia keluar dari zona kenyamanan kita. Mungkin kita harus meninggalkan kestabilan menuju kepada hal yang tidak menentu untuk sementara waktu. Kita perlu menyesuaikan diri kembali. Kita harus merevisi asumsi-asumsi diri. Dan banyak hal lagi yang mesti kita ubah. Tetapi, berapa banyak dari kita yang bersedia meninggalkan comfort zone seperti itu? Jika kondisi sekarang sudah membuat kita enak, mengapa kita harus meninggalkan kenyamanan ini untuk sesuatu yang beresiko dan penuh teka-teki?

Tiga, bersedia membayar harganya. Ketika kita melihat orang lain berprestasi tinggi, seringkali kita hanya melihat hasil akhirnya saja. Yaitu, berupa pencapaian hebat orang itu. Lalu, kita berkata; "Beruntungnya dia. Tuhan telah berbaik hati memberinya talenta yang hebat." Kita tidak pernah tahu bahwa orang itu telah selama bertahun-tahun mengurangi jam tidurnya. Membuang kesenangannya bermain-main dengan game computer yang menyita begitu banyak waktu, tenaga dan biaya itu. Memeras pikirannya. Memaksa diri untuk berdisiplin tinggi. Dan hanya berfokus kepada hal-hal yang akan membawanya kepada peningkatan kualitas diri secara progresif.

Kita tidak pernah mengetahui semua kerja keras yang dilakukan oleh orang itu. Karena kita terlampau silau oleh hasil akhir yang dicapainya, sambil sesekali menelan ludah. Yang sebenarnya terjadi adalah; `Hanya setelah orang itu bersedia membayar semua harganya sajalah, dia baru bisa sampai kepada pencapaian itu.' Lagi pula, kalau pun kita tahu pahit dan sulit serta terjal berlikunya jalan yang harus dia tempuh; belum tentu kita mau mengikuti jejak langkahnya, bukan? Padahal, ketiga hal itulah yang sesungguhnya telah berhasil menjadikan playing ground-nya menjadi semakin besar. Sehingga kapasitas dirinya juga menjadi semakin besar. Semakin besar. Dan semakin membesar. Sehingga tidak heran jika orang itu bisa meninggalkan manusia-manusia kebanyakan jauh dibelakangnya.

Jika dalam computer kita menyebutnya RAM, bagaimana dengan manusia? Bolehkah saya menyebutnya HAM? Ya. HAM. Human Activated Memory. Yaitu, memory yang tersimpan dalam diri kita, yang bisa kita gunakan untuk berurusan dengan hal-hal yang kita hadapi secara spontan. Memori itu berbahan dasar talenta. Yaitu, potensi yang tersimpan didalam diri kita. Betul-betul dilatih dan diolah sampai menjadi kemampuan actual. Sehingga, kapan saja kemampuan itu dibutuhkan, kita bisa memanggil dan mendayagunakannya secara spontan.

Anda boleh saja mengklaim diri berbakat bermain piano, misalnya. Tapi, jika bakat itu tidak diasah dengan sungguh-sungguh. Maka klaim anda hanya akan menjadi bualan belaka. Permainan piano anda tetap saja jelek. Anda boleh saja mengklaim bahwa diri andalah yang paling layak mendapatkan promosi itu, bukan pesaing anda. Karena anda mengira bahwa anda lebih senior. Lebih pintar. Lebih rajin. Tapi, jika klaim anda itu tidak didukung oleh kapasitas actual yang bisa anda tunjukkan; maka anda tetap saja akan menjadi karyawan jelek. Dan hati anda juga jelek, karena dipenuhi rasa iri.

Anda juga boleh menganggap diri sendiri kurang berbakat. Jadi, wajar saja jika pencapaian anda biasa-biasa saja. Anda tidak dilahirkan untuk menjadi pemenang. Karena Tuhan memberi anda begitu banyak keterbatasan. Hey, wake up! Bangun, bung! Tidak ada manusia yang dilahirkan tanpa keterbatasan. Dan tidak ada manusia yang dilahirkan tanpa membawa pesan dan seoles kemampuan. Wake up and realize that YOU; don't need to be a perfect person to succeed. YOU, just need to accept yourself just the way you are. And start to enlarge your own playing ground. Your Human Actualized Memory. Your HAM. Would you?

Kamis, 21 Agustus 2008

MENUNTUT

"Menuntut" sudah menjadi sebuah gaya hidup yang sangat biasa kita lakukan.

Di gereja, kita "menuntut" seorang pembicara yang humoris dan menyenangkan. Kita menuntut suasana gereja yang tenang atau penuh energi saat penyembahan / paduan suara. Kita "menuntut" sarana gereja harus baik (tempat parkir harus luas, jalan harus gampang, ruang gereja harus ber-AC, jalan naik ke ruang gereja harus lewat lift / elevator, harus ada acara makan-makan - minimal menu Eropa atau Jepang - kalo acara gereja lebih dari 2 jam). Kalau tidak, minggu depan kita akan pindah ke gereja lain.

Pada Tuhan, kita "menuntut" pasangan hidup yang sempurna, yang mau memahami kita, yang seiman dengan kita. Kita "menuntut" diberi kehidupan yang baik, kaya, punya harta yang banyak. Kita "menuntut" Tuhan memberikan kelancaran pada bisnis kita, biar kangtaw selalu lancar dan banyak. Kita "menuntut" Tuhan selalu mendengar doa kita. Tidak jarang, agar "tuntutan-tuntutan" didengar Tuhan, kita bersikap bak anak umur 3 tahun : MENANGIS SEKENCANG-KENCANGNYA !!! Baik sambil berdoa, maupun bernyanyi (bahkan tidak jarang sampai pukul2 dada, meratap, mohon ampun sambil bersujud, meloncat-loncat, atau menggeleng-geleng kepala kayak orang kerasukan / trance). Saya suka ketawa jika lihat orang seperti itu. Jadi ingat anak saya yang berumur 3 tahun. Kalo permintaannya tidak dituruti, dia akan menangis sekencang-kencangnya, dan bertanya, "Mengapa Papa tidak membelikan saya permen? Mengapa Papa sejahat itu? Mengapa Papa tidak sayang saya lagi?" Ya... begitulah kita !!!! Gak jauh beda ya dengan anak umur segitu?

Di kantor, kita "menuntut" perusahaan memberikan fasilitas yang "layak" (komputer keluaran terbaru dengan kapasitas RAM, DDR, Harddisk yang paling besar, Motherboard yang super canggih, layar plasma atau flat berukuran 29" (kalo ada), jaringan LAN / WAN yang 'ces-leng' (yang gak pernah putus connection internet-nya), fasilitas mobil dari kantor, rumah, gaji yang tinggi dan pasti / wajib selalu naik minimal 50%, ruang kantor yang mewah dengan AC baru yang masih sejuk, bla-bla-bla). Kalau tidak dapat, kita akan kerja asal-asalan dan ogah-ogahan. Gak lama, keluar dan cari gawe lain yang bisa memberikan fasilitas yang kita inginkan.

Di lingkungan sekitar, kita "menuntut" banyak hal pada lingkungan. Kita menuntut pemerintah menurunkan harga BBM. Kita menuntut Pemerintah Daerah menaikkan Upah Minimum Regional dan Daerah. Kita menuntut pengadilan menghukum Jaksa Agung yang korup. Kita menuntut negara membubarkan Ahmadiah. Kekerasan menjadi pilihan ketika "tuntutan" kita tidak didengar. Kita pun sering "menuntut" pemerintah untuk memperhatikan sarana dan prasarana (jalan, selokan, penerangan, dll). Biar kalo banjir, rumah gak kebanjiran. Listrik jangan byar-pet aja. Air PAM ngocor terus. Tapi omong-omong.... sudah bayar pajak (PPh, PBB, PPN, Pajak Kebersihan, Pajak Sampah, Pajak Keamanan, dan Pajak2 lain) belom? Listrik dibayar sesuai gak? Nyuri listrik tetangga gak? Manipulasi meteran gak?

HARGA YANG HARUS DIBAYAR
Yang menyedihkan (sekaligus menyebalkan), kita sering lupa bahwa apa yang kita tuntut selalu ada harga yang harus dibayar. Tidak ada yang gratis. Kita bisa menuntut Gereja punya fasilitas yang baik. Kita menuntut gereja lebih perduli pada kita. Tapi apa kontribusi Anda pada gereja? Sudah aktif dalam persekutuan? Ikut perlawatan? Ada ngasih sumbangan? Ngasih bantuan dana pada pembangunan gereja, sekolah alkitab, pengembangan program gereja? Perpuluhan gimana? Lancar? Ngasih lebih atau benar-benar PAS sepuluh persen, atau malah kurang 1%? Atau hanya 2.5%, seperti rekan-rekan kita non-Kristen?

Begitu juga ketika kita berdoa pada Bapa. Kita selalu "menuntut" doa kita dijawab. Saya yakin, pada saat kita minta, Bapa pasti dan mampu menjawab langsung doa kita. Tapi sebelumnya, Dia akan selalu bertanya, "Apa yang bisa kau lakukan pada-Ku?"

Ya.... Tidak hanya Tuhan dan Gereja, tetapi di mana pun. Ketika kita menuntut sesuatu, pasti ada harga yang harus kita bayar dan semuanya harus KONTAN. Sudah bukan rahasia lagi bahwa di dunia ini berlaku hukum ekonomi bahwa "Harga gak bohong". Artinya, ketika menuntut barang atau perlakukan yang terbaik, kita sudah harus tahu bahwa ada harga yang cukup tinggi yang harus kita bayar dulu sebelum tuntutan kita terpenuhi.
Seorang rekan saya, baru-baru ini mendatangi pimpinan dan mengeluh karena fasilitas yang dia peroleh sangat minim, sehingga dia tidak bisa produktif. Pimpinan saya dengan arif bertanya padanya, "Fasilitas apa sebenarnya yang Anda butuhkan?"

Dengan berapi-api, rekan saya berkata," Gini, Pak. Saya kan Marketing. Bapak tahu mobilitas saya tinggi. Maka saya butuh laptop agar tiap kali komunikasi, saya bisa langsung update ke kantor. Saya juga butuh hp. Yang 3G, punya foto, blue-tooth, dan punya koneksi internet yang cepat. Jadi kalo ada produk yang dibutuhkan Buyer, saya tinggal foto, dan kirim pada divisi lain untuk di-follow up. Semuanya jadi bisa sangat cepat. Saya juga butuh pulsa tidak terbatas, agar informasi yang saya berikan tidak terhenti dan terus ter-update. Gitu aja, Pak. Sebenarnya saya "bisa" kerja lebih efektif buat Bapak JIKA fasilitas itu terpenuhi."

Pimpinan saya tersenyum, "Oke kalo gitu. Gak masalah. Dua hari ini akan saya siapkan. Tapi pertanyaan saya : berapa omset yang BISA Anda berikan bagi perusahaan setelah ada fasilitas itu?"

"Belum tahu, Pak. Selama fasilitas belum ada, saya belum bisa memberikan komitmen omset buat Bapak."

"Berapa klien yang BISA Anda berikan bagi perusahaan."

"Belum tahu, Pak. Kan...."

"Oke... oke. Berapa efektif Anda BISA bekerja buat saya? Anda siap setiap saat saya butuh Anda? Anda mampu bekerja 24 jam bersama saya? Anda bisa hadir kapan pun dan di mana pun saya butuhkan?"

"Oh... eh... itu..., "rekan saya jadi ragu. "Susah ya, Pak. Kan saya manusia seperti Bapak. Saya punya kehidupan pribadi. Butuh istirahat. Butuh sosialisasi. Jadi gak mungkin waktu saya semua untuk perusahaan."

Pimpinan saya tertawa. "Jadi apa dong kontribusi kamu buat perusahaan? Ini gak bisa, itu gak mau, ini-itu gak tahu. Bisanya minta melulu."

INILAH KITA....
Ya... inilah gambaran kita. Kita sering kali bisanya menuntut saja. Tapi ketika diminta "membayar" harga untuk tuntutan itu, kita gak bisa dan gak mau. Jadi bisanya apa dong?

Beberapa waktu lalu, mungkin Anda juga dengan para pekerja perusahaan rokok terbesar di Jawa Timur demo karena minta uang jasa pada perusahaannya. Padahal uang jasa itu diberikan pada karyawan yang telah bekerja lebih dari 5 tahun dan mengajukan pengunduran diri (sesuai UU Tenaga Kerja No. 13 tahun 1991). Mengapa perusahaan tidak memberikan uang jasa? Karena, jika uang jasa diberikan, artinya perusahaan melakukan PHK massal. Jika para pekerja menuntut uang jasa diberikan, artinya mereka siap mengundurkan diri. Pertanyaan : Apa mereka sudah benar-benar siap? Rasanya cukup bodoh jika mereka harus melepas mata pencarian tetap yang senilai minimal Rp 600 ribu / bulan hanya demi uang jasa sebesar Rp 300 ribu yang hanya akan mereka terima satu kali untuk selamanya.

Pada Tuhan pun sama. Yang belum menikah seringkali berdoa minta Tuhan memberikan jodoh yang "sempurna". Tapi kita tidak pernah sadar, apakah kita sendiri sudah sempurna? Kita menuntut calon kekasih kita adalah orang yang takut pada Tuhan dan mencintai kita sepenuh hati. Kita sendiri gimana? Sudah takut pada Tuhan? Sudah perduli sepenuh hati pada sesama, atau hanya sekedar melaksanakan "tugas pelayanan"? Yakin sudah melaksanakan sepenuh hati? Coba sebutkan nama 10 orang yang Anda layani dalam minggu ini. Apa masalah dan harapan mereka? Bagaimana kehidupan keluarganya? Anggota keluarganya sudah percaya Tuhan semua? Mereka sudah Anda doakan dan bawa dalam doa shafaat harian? Semuanya? Setiap hari?

Jika kita saja tidak mampu "membayar" apa yang kita tuntut pada Tuhan, apa mungkin Tuhan memberikan sesuai yang kita mau? Karena itulah, kita selalu diajar untuk meminta "sesuai kehendak-Nya", karena kita sendiri tidak mampu "membayar" apa yang kita "tuntut" pada Tuhan.

Janganlah menjadi orang yang bisanya menuntut saja. Ingatlah, ketika kita menuntut sesuatu - entah apapun dan pada siapapun - ada harga yang harus kita bayar. Jika Anda pasti bisa membayarnya, niscaya, tuntutan Anda akan didengar dan langsung dijalankan. Tapi jika tidak mampu.... jangan harap tuntutan Anda didengar.

Tuhan memberkati.
GBU, Constantine.

Selasa, 12 Agustus 2008

LOMPATAN SI BELALANG

Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi diantara sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat dapat pergi kesana.

Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut. Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat keindahan desa itu. Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar. Belalang itu bertanya kepada anjing,"Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan disini ?" "Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini" jawab anjing dengan sombongnya. Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda. Dia lalu berkata lagi "Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita". "Baik", jawab si anjing. "Di depan sanaada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut".

Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut. Kesempata n berikutnya adalah si belalang muda.Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata gagal pula.

Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata ,"Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang ? Kamu sudah kalah"."Belum", jawab si belalang. "Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua ?" "Apapun tantangan itu, aku siap" tukas si anjing. Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, dari diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya".

Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasi l lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari
lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum. "Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga", kata si anjing. "Tidak perlu", jawab si belalang. "Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.

INTINYA ADALAH, SETIAP DARI KITA MEMPUNYAI POTENSI DAN STANDARD YANG BERBEDA TENTANG KEMENANGAN. ADALAH TIDAK BIJAKSANA MEMBANDINGKAN POTENSI KITA DENGAN YANG LAIN.

KEMENANGAN SEJATI ADALAH KETIKA DENGAN POTENSI YANG KITA MILIKI, KITA BISA MELAMPAUI STANDARD DIRI KITA SENDIRI.

REFLEKSI :
Seberapa tinggikah kita `melompat' ?
Dalam kehidupan, seringkali tanpa sadar kita mencoba membandingkan kemajuan dan perkembangan diri kita dengan standard orang lain. Membandingkan pendapatan kita dengan orang lain, pekerjaan kita dengan pekerjaan orang lain, salary kita dengan salary orang lain, barang-barang yang kita miliki dengan barang orang lain, kesuksesan yang kita miliki dengan kesuksesan orang lain, karir kita dengan karir orang lain dlsb...

Dan seringkali lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan yang didapat. Mengapa ? Karena kita masing-masing dilahirkan dengan potensi yang berbeda, dengan bakat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, dan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan.

Cara yang tepat untuk mengukur seberapa jauh diri kita telah berkembang dan maju, adalah membandingkan diri kita saat ini dengan diri kita dimasa lalu.

Apakah Kita hari ini lebih kaya dibanding setahun yang lalu ? Apakah Kita hari ini lebih bisa mengontrol emosi dibanding bulan lalu ? Apakah Kita hari ini lebih sehat dibanding kemarin ? Apakah Kita hari ini lebih bijaksana dibanding setahun yang lalu ?

Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, namun kemenangan atas diri sendiri.

Mari kita buat diri kita hari ini selalu lebih baik dari hari kemarin.