Kamis, 29 April 2010

Gunakan Kata-Kata Anda Untuk Memberkati Orang Lain

Suatu hari, saya sedang memberi kotbah tentang lebih mengekspresikan perasaan sayang kita.

Setelah kotbah, dua orang pria berambut abu-abu berjalan menghampiri saya.

Pria pertama berkata, “Saudara Bo, sepanjang umur pernikahan saya, tidak sekalipun saya pernah mengatakan pada isteri saya bahwa saya mencintainya. Saya tidak pernah terlatih untuk menjadi ekspresif.”

Pria lainnya menambahkan, “Bo, saya tidak merasa suatu kebutuhan untuk mengatakan ‘saya mencintaimu’ kepada isteri saya. Bukti apa lagi yang ia butuhkan? Saya masih di sini beristerikan dia, ya kan? Rasanya saya ingin tindakan saya berbicara lebih daripada kata-kata saya.”

Saya mempelajari kedua pria di depan saya. Dan saya mengerti mereka.

Karena saya menyadari dari jaman apa mereka berasal. Biar saya gambarkan seberapa usia mereka: saya sedang menerka-nerka mereka adalah teman sekelas Jose Rizal atau Emilio Aguinaldo. (Mereka adalah pahlawan Filipin yang hidup di abad ke-19.)

Bercanda.

Mereka setua ayah saya.

Dan itulah sebabnya saya mengerti mereka.

Karena saya mengerti ayah saya.


KATA FAVORIT AYAH

Saya menyayangi ayah saya.

Dan saya tahu kalau ia sangat menyayangi saya.

Setiap hari, ia akan meluangkan waktu bersama saya. Ia mengisi hati
saya dengan kasih sayang.

Tapi ia tidaklah sempurna.

Seperti kedua pria yang lebih tua itu, saya ingat betapa Ayah tidak banyak berbicara.

Kata favoritnya adalah sebuah dengusan.

Ia memiliki bahasa dengusan istimewa ini yang saya coba tafsirkan selama bertahun-tahun.

Berikut adalah percakapan yang biasa saya lakukan bersamanya sebagai seorang anak…

Bo kecil: “Hai Ayah!”

Ayah: “Mmm.” (Tatapan kosong.)

Bo kecil: “Di mana Ibu, Ayah?”

Ayah: “Mmm.” (Sedikit menyentak kepalanya ke arah dapur.)

Bo kecil: “Bisakah kita ke toko mainan Sabtu ini?”

Ayah: “Mmm.” (Mengangkat bahunya.)

Bo kecil: “Maukah Ayah membelikan saya sebuah robot Voltus V?”

Ayah: “Mmm.” (Mengernyitkan dahi.)

Bo kecil: “Bisakah Ayah menjelaskan teori Relativitas?”

Ayah: “Mmm.” (Tatapan kosong.)

Bo kecil: “Wow Ayah, semuanya jelas bagi saya sekarang.”

Ayah: “Mmm.” (Tatapan kosong lagi.)


APAKAH MEREKA MENGAJARKAN INI DALAM FATHERHOOD 101?

Saya pikir para ayah Filipin dari generasi itu dilatih dalam bahasa “dengusan” istimewa ini. Ketika mereka mengikuti Fatherhood 101, mereka diajarkan untuk menjadi kuat, kaku, dan tabah seperti sebuah tembok abu-abu.

Jangan salah sangka. Saya ulangi: Ayah saya menyayangi saya. Sangat.

Tapi ia hanya tidak cukup baik dalam berkata-kata.

Dalam seluruh hidup saya, saya tidak ingat ayah mengatakan pada saya,
“Ayah menyayangimu”. Tidak sekalipun ia berkata pada saya, “Ayah bangga terhadapmu” atau “Ayah senang kamu adalah anak ayah.”

Melihat ke belakang, saya berharap ia mengatakan kata-kata itu pada saya. Jiwa saya mendambakan untuk menerima berkat itu darinya.

Jika Anda adalah orang tua, jangan menahan hanya karena Anda tidak pernah melakukannya sebelumnya.

Anda mungkin akan mengatakan, “Tapi Bo, anak-anak saya sekarang sudah dewasa. Saya rasa sudah terlalu terlambat.”

Tidak, sama sekali tidak. Tidak akan pernah terlalu terlambat.

Anda dapat mengangkat telepon dan mengatakan pada mereka betapa berartinya mereka bagi Anda. Hargai mereka dan beri mereka berkat itu.

Ingat: Anda adalah satu-satunya yang dapat melakukan itu. Anda adalah satu-satunya yang dapat memberi mereka berkat istimewa ini.

Sebagai orang tua. Sebagai pasangan. Sebagai sahabat.

Saya tahu ini dari pengalaman pribadi…


DENGAN CARANYA YANG ANEH, IA MENGHARGAI SAYA

Saya sudah berumur delapan belas dan sudah berkotbah.

Tapi saya menerima begitu banyak undangan untuk memberi kotbah, dan saya menolak mereka.

Maka suatu hari, Ayah memarahi saya. Ia berkata, “Bo, kamu mempunyai karunia untuk berkotbah! Ayah tidak memilikinya. Ayah harap Ayah punya. Tapi Ayah tidak. Kamu punya. Jika Ayah adalah kamu, Ayah akan mengatakan ‘ya’ pada setiap undangan. Karena kamu harus menggunakan karuniamu. Jika kamu tidak menggunakannya, Tuhan mungkin akan mengambilnya darimu!”

Ada nada kemarahan dalam suaranya. Tapi dalam prosesnya, kata-kata penghargaan terucap dari bibirnya. Dengan cara yang tidak biasa, ia memuji saya. Dan jiwa saya bergembira. Meskipun ia tidak mengatakannya, saya punya firasat betapa bangganya Ayah terhadap saya. Kata-kata itu sangat berarti bagi saya, karena saya masih mengingatnya hari ini – setelah lebih dari 20 tahun!


SUATU KERINDUAN YANG DALAM DI HATI SETIAP MANUSIA

Di sanalah saya, mendapat tepukan dari setiap orang di planet ini.

Para pendengar mengagumi saya. Orang-orang memuji saya.

Tapi semua itu tidaklah cukup. Jauh di dalam, saya masih menginginkan Ayah memuji saya. Saya ingin Ayah menghargai saya.

Saya percaya bahwa di dalam hati setiap manusia ada kerinduan yang dalam untuk dihargai oleh orang tuanya. Setiap kita ingin mendengar kata-kata ini: “Saya bangga dan senang engkau adalah anak saya.”

Teman, hargai orang-orang yang Anda sayangi dengan kata-kata Anda!

Jangan katakan, “Oh Bo, saya terlalu tua untuk belajar.”

Jangan macet di dalam cara-cara kuno Anda. Untuk kepentingan anak-anak, Anda dapat berubah. Gunakan kata-kata Anda untuk memberkati orang lain.

Ingat: Ketika Anda menghargai seseorang dengan kata-kata Anda, Anda tidak hanya membuat orang tersebut merasa senang. Karena kata-kata memiliki kuasa. Tuhan telah mengilhami kata-kata kita dengan kekuatan daya cipta yang sangat besar. Kata-kata Anda dapat mempertunjukkan
mukjizat. Kata-kata Anda dapat menyembuhkan luka. Kata-kata Anda dapat menyegarkan jiwa.

Namun saya tahu beberapa orang yang melakukan hal sebaliknya: Mereka menggunakan kekuatan mereka yang luar biasa untuk mengutuk.


ANDA MEMILIKI KUASA UNTUK MEMBERKATI ATAU MENGUTUK

Suatu hari, seorang wanita menghampiri saya dan meminta didoakan. Ia mengatakan seorang penyihir mengutuknya. Ia mengalami sakit selama setahun, menderita kesakitan yang amat sangat di seluruh tubuhnya, tapi para dokter tidak dapat menemukan apa yang salah pada dirinya.

Hal ini mungkin benar. Karena ketika tim doa kami mendoakannya, kesembuhannya terjadi secara cepat. Ia tidak pernah mengalami kesakitan lagi.

Tukang sihir ditakuti oleh setiap orang. Karena para penyihir ini
memiliki kekuatan untuk membunuh atau menyakiti hanya dengan mengutuk musuh mereka.

Menakutkan bukan?

Saya mempunyai kabar untuk Anda: Anda tidak perlu menjadi seorang penyihir untuk memiliki kekuatan ini. Semua kita memiliki kekuatan ini.

Ketika orang tua berkata, “Kamu tidak berharga, kamu bodoh!”, mereka sedang mengutuk anak-anak mereka. Mereka meramalkan malapetaka bagi anak-anak mereka. Mereka bersikap persis seperti tukang tenung.

Kemarin, saya membaca tentang J. Paul Getty. Ia adalah seorang miliarder. Ia memiliki lebih dari 200 perusahaan. Ia sangat berhasil dalam bisnis tapi sangat gagal dalam keluarga.

Ia pernah menikah lima kali dan bercerai lima kali. Ia memiliki enam orang putera. Tapi ia begitu sibuk membangun kerajaannya, ia tidak pernah sungguh-sungguh meluangkan waktu dengan anak-anaknya. Ia juga sangat kritis.

Sebagai contoh, puteranya Paul Junior menulis surat pada ayahnya.
Surat itu akan kembali dengan koreksi lafal dan kesalahan tata bahasa – tapi tidak ada jawaban dari sang ayah. Paul kemudian menjadi seorang pecandu heroin.

Puteranya yang lain, Gordon, berelasi dengan ayahnya hanya lewat pengadilan, memperebutkan uang.

Puteranya yang lain, Ronald, masuk dalam industri perfilman, dan ayahnya mencemoohnya.

Putera lainnya bekerja dengan ayahnya dalam bisnis keluarga. Tapi ia mengambil nyawanya, menusuk dirinya di perut dan meminum pil hingga overdosis.

Dalam arti, J. Paul Getty mengutuk anak-anaknya.

Anda juga memiliki kuasa untuk memberkati dan mengutuk orang dengan menggunakan kata-kata Anda. Alkitab mengatakan bahwa hidup dan mati ada di dalam kuasa lidah.

Mari saya bagikan sebuah kisah yang sangat aneh dari Alkitab.


SEBUAH KISAH YANG SANGAT ANEH

Ishak mempunyai anak kembar laki-laki – Yakub dan Esau.

Ketika beberapa orang Filipin mendengar “Esau”, mereka secara otomatis merasa lapar. (Tolong, berfokuslah pada cerita.)

Ishak dan isterinya Ribkah pilih kasih. Yang mengakibatkan bencana.
Papa Ishak menyukai Esau sementara Mama Ribkah menyukai Yakub. (Orang tua, jangan pilih kasih. Konflik Esau-Yakub berlanjut hingga hari ini di Timur Tengah, sekitar lebih dari 3000 tahun kemudian!)

Ketika Ishak menjadi tua dan buta, ia memanggil puteranya Esau dan berkata, “Aku akan segera mati. Aku ingin memberimu berkatku. Pergi dan berburulah seekor binatang liar bagiku, masaklah seperti yang aku gemari dan sajikanlah bagiku. Maka aku akan memberimu berkatku.”

Tapi Ribkah berada di luar tenda, menguping.

Dengan segera, ia memasak seekor kambing dari kawanan mereka. Ia kemudian menyuruh Yakub untuk membawa makanan itu kepada ayahnya dan berpura-pura menjadi Esau, maka ia bisa mendapatkan berkat.

Ishak, dengan kebutaannya, terperdaya. Ia mengira Yakub adalah Esau dan memberi Yakub berkatnya. Ia berkata, “Kiranya engkau berkelimpahan, bangsa-bangsa takluk padamu, siapa yang memberkatimu akan diberkati, dan siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia.”

Ketika Yakub pergi, kakaknya Esau datang. Ishak begitu terkejut. Dan ia berkata, “Maaf Esau, aku telah memberikan berkat kepada Yakub. Aku tak dapat mengambilnya kembali.”


APA YANG DIPEREBUTKAN ORANG-ORANG INI?

Apa yang aneh? Kakak beradik tidak memperebutkan harta ayah mereka, atau ternak ayah mereka, atau tanah ayah mereka.

Mereka memperebutkan kata-kata ayah mereka.

Mereka memperebutkan berkat seorang yang sudah tua.

Mengapa?

Karena dalam pemikiran Alkitab, kata-kata bukan hanya bunyi-bunyian tanpa arti. Kata-kata bukan hanya keributan.Kata-kata memiliki kekuatan kreatif. Kata-kata mendefinisikan realitas kita.

Ketika saya mengatakan pada putera saya, “Ayah begitu bahagia karena engkau adalah anak Ayah. Ayah tahu engkau akan menjadi sangat sukses dalam seluruh hidupmu dan semua yang kau sentuh akan menghasilkan”,
Saya tidak hanya menghargai putera saya, saya juga memberikan padanya sebuah berkat supernatural.

Ketika saya mengatakan pada isteri saya, “Aku mencintaimu. Engkau adalah hal terbaik yang pernah terjadi pada saya”, saya tidak hanya menghargai dia, saya juga memberinya sebuah berkat supernatural.

Bagian dari berkat supernatural adalah sebuah nubuatan…


ORANG AKAN NAIK KE TINGKAT YANG ANDA NUBUATKAN

Anda adalah seorang nabi.

Anda dapat membentuk nasib anak-anak Anda, teman-teman Anda, orang-orang yang Anda sayangi dengan kata-kata Anda.

Inilah yang saya pelajari: Orang akan naik ke tingkat yang Anda
nubuatkan. Orang akan menyesuaikan kepada nubuatan Anda.

Ingat, jika tidak mengatakan pada anak-anak Anda siapa diri mereka dan apa nasib mereka, orang lain akan melakukannya. Televisi akan memberitahu mereka. Internet akan memberitahu mereka. Para pengganggu di sekolah akan memberitahu mereka.

Jangan biarkan itu terjadi. Hargai anak-anak Anda!

Ini adalah kisah hidup saya.

Suatu ketika, saya berusia 13 tahun dan seorang murid yang payah di sekolah. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya.

Namun suatu hari, wanita ini datang pada saya, bernubuat kepada saya dan berkata, “Bo, kamu akan menerima karunia pengetahuan. Aku percaya padamu. Kamu akan berkotbah Firman Tuhan kepada banyak orang.”
Kemudian ia meminta saya untuk memberi kotbah di persekutuan doa kami. Ia melakukannya terus-menerus.

Dari bukan siapa-siapa, saya naik ke nubuatannya.


"TAPI BO, ORANG TUA SAYA TIDAK MENGHARGAI SAYA!"

Mungkin orang tua Anda gagal untuk memberikan berkat bagi Anda.

Lantas inilah yang Anda lakukan.

Datanglah kepada Tuhan dan terima berkat itu secara langsung dariNya.

Ketika Bapa memperkenalkan Yesus kepada dunia, Ia berkata, “Inilah anakKu yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.” Apa yang sedang dilakukan Bapa? Ia sedang menghargai dan memberkati PuteraNya.

Saya percaya Tuhan mengatakan kalimat yang sama kepada Anda. “Inilah anakKu, kepadanya Aku berkenan!”

Anda mungkin merasa sulit untuk menelan kalimat itu. “Tidak Bo, saya seorang pendosa besar. Saya telah mengecewakan Tuhan. Saya yakin Ia tidak akan mengatakan itu tentang saya.”

Tapi itulah Rahmat. Ketika Tuhan memandang Anda, Ia tidak melihat kesalahan Anda. Ia melihat kebaikan yang Ia ciptakan di dalam diri Anda.

Hari Kamis lalu, saya mendengarkan Pastor Cantalamesa berkotbah.

Siapa dia? Pastor Cantalamesa adalah Pemimpin Retret dari Paus.
Setiap kali Paus melakukan retret, dialah orangnya yang memberikan retret itu. Selama 30 tahun, ia telah menjadi pengkotbah bagi Rumah Tangga Kepausan.

Pastor Cantalamesa mengatakan sesuatu yang membuat saya terpesona. Ia mengatakan ia suka berkata pada Tuhan, “Bapa, lihat saya…dan bersuka!”

Wow.

Teman, Tuhan senang akan Anda.

Ia tidak hanya mengasihi Anda, Ia bersuka karena Anda. Ketika Tuhan melihat Anda, saya percaya Ia sangat senang, Ia menyanyi, melompat, dan menari karena gembira.


APA YANG ANDA LIHAT PADA ORANG-ORANG DI SEKELILING ANDA?

Pada suatu ketika, saya adalah seorang pemimpin rohani yang “negatif”.

Pertanyaan saya yang paling utama adalah, “Apa yang salah dengan ‘domba-domba’ saya?” Saya berfokus pada kesalahan-kesalahan mereka.
Saya melihat pada kelemahan-kelemahan mereka. Saya akan berkata,
“Komitmen mereka kurang sekali,” dan “Mereka sangat keras kepala…”

Maka saya memberi kotbah tentang rasa takut, berharap bahwa orang-orang akan merasa cukup takut dan mengubah hidup mereka. Saya memandang rendah para pendengar saya. Saya mengatakan pada mereka untuk menjadi lebih baik atau…

Namun suatu hari, kepemimpinan saya berubah.

Karena saya berubah.

Saya percaya saya berubah ketika saya menjadi seorang ayah.

Karena saya belajar bahwa berfokus pada kelemahan anak-anak saya hanya memperbanyak kelemahan mereka. Saya belajar untuk berfokus pada kelebihan mereka, dan dengan melakukan itu, kelebihan mereka bertambah. Kabar baiknya? Kelebihan mereka dengan spontan mendorong keluar kelemahan mereka!

Maka saya menjadi seorang pemimpin rohani yang “positif”.

Sekarang, ketika saya melihat ‘domba-domba’ saya, saya bertanya, “Apa yang hebat tentang mereka?” Kini, saya begitu kagum akan komitmen, kemurahan hati, dan penuh kasihnya mereka. Saya tidak dapat meminta keluarga rohani yang lebih baik!

Kini, saya berkotbah tentang cinta. Saya tidak bisa menahannya.
Tuhan telah memenuhi hati saya dengan begitu banyak cinta, dan cinta itu meluap.

Mari saya ceritakan kisah terakhir saya…


YOU ARE MY SUNSHINE

Saya sangat menyukai kisah ini.

Suatu hari, Michael yang berumur 3 tahun berharap mendapatkan seorang adik perempuan.

Maka ketika bayi di dalam kandungan ibunya dinyatakan perempuan, anak kecil itu sangat gembira. Setiap hari, ia akan mengelus perut ibunya dan menyanyi untuk adik perempuannya, You are my sunshine, You are my sunshine, You make me happy, when stars are grey…
Namun ketika bayi tersebut dilahirkan, terjadi komplikasi. Bayi
tersebut berada dalam kondisi kritis.

Michael kecil menunggu di rumah, menerka-nerka mengapa ibu dan adik bayinya belum juga tiba di rumah.

Beberapa hari kemudian, dokter memberitahu ibunya bahwa bayinya mungkin tidak akan bertahan lama. Ibunya memutuskan untuk membawa Michael ke ruang ICU dan melihat adik bayi perempuannya sebelum ia meninggal.

Ibunya tahu hal itu melanggar aturan ICU, tapi ia tahu ia harus
melakukannya. Ia membawa masuk Michael kecil dan membiarkannya berdiri di samping adik bayinya yang kondisinya memprihatinkan.

Saat itulah Kepala Perawat melihat Michael dan berteriak, “Anak-anak dilarang masuk ke sini!”

Tapi sebelum mereka mendorongnya keluar ruangan itu, Michael kecil bernyanyi untuk adik bayinya, You are my sunshine, You are my sunshine. You make me happy, when stars are grey, You never know dear, how much I love you, please don’t take my sunshine away…

Dengan segera, bayi itu menjadi tenang. Detak jantungnya, yang luar biasa cepat, melambat.

Kepala Perawat memperhatikan apa yang terjadi dan berkata, “Anak kecil, apapun yang kau lakukan, lakukanlah terus. Sesuatu sedang terjadi pada bayi itu!”

Michael terus menyanyi bagi adiknya. Dan setiap hari, ia bertambah
baik. Hingga ia sembuh total.

Karena Michael kecil menggunakan kata-kata penghargaan untuk
memberkati adik perempuannya.

Teman, Anda juga dapat menyembuhkan orang lain.

Anda memiliki kuasa Tuhan dalam lidah Anda.

Gunakan kata-kata Anda untuk memberkati orang lain.


Semoga impian Anda menjadi kenyataan

Bo Sanchez
HANDPHONE di dalam PENERBANGAN, versus HANDPHONE di dalam GEREJA

Mungkin judul diatas, seperti sebuah pembanding yang Kontras dan Aneh. Tetapi itulah kenyataannya, dan apa yang saya akan share disini bukanlah mau menggurui, dsb. Saya hanyalah sesorang yang merasa 'TERTEGUR' (secara pribadi) dengan apa yang sudah TUHAN ingatkan dalam diri saya.

NAIK PESAWAT?.
Yaa...bagi sebagian dari kita, itu adalah hal yang mungkin jarang atau tidak pernah sama sekali. Tetapi bagi sebagian dari kita, sudah sering kali naik pesawat, bahkan 'bekerja' di pesawat. Seperti layaknya sebuah prosedur penerbangan, saat kita akan melakukan sebuah penerbangan, semua HANPHONE harus DIMATIKAN atau berada dalam OFLLINE/FLIGHT MODE. Karena dapat menggangu sistim navigasi pesawat.

Hal itu berarti 'memutuskan' sementara terhadap semua hubungan dengan sinyal operator handphone kita masing-masing, dan menyalakannya kembali saat pesawat telah mendarat, dan berhenti dengan sempurna di bandara tujuan.

Tentu kita sudah paham akan hal ini, dan mengikuti prosedur ini, karena ingin 'nyawa' kita selamat selama penerbangan, dan tidak ingin juga mendapat masalah dengan awak pesawat karena menolak mematikan handphone.

Saya sekitar seminggu yang lalu, tepatnya hari Jumat siang, saya merasa TUHAN tegur langsung di dalam sebuah ibadah di salah satu kota saat saya sedang pelayanan disana. Biasanya saya hanya me-nonaktifkan nada dering saja, dan masuk dalam menu Vibrate, dan semua sms, telp masih dapat tetap masuk tanpa ada ringtonenya. Tetapi hari itu, saat ibadah baru dimulai, tiba2 seperti ada 'sesuatu' yg berbicara sangat tegas dalam batin saya. Secara umumnya seperti ini...

"Kamu, sangat menjaga dan aware dengan safety di dalam dunia penerbangan, dan mematuhi segala prosedurnya. Kamu sanggup mematikan handphone-mu selama penerbangan berlangsung demi menghormati dan menjaga sebuah prosedur keselamatan, dan menghindari masalah dengan awak pesawat karena menyalakan handphone.

Masa dirimu tidak dapat mematikan handphonemu untuk AKU hanya dua sampai tiga jam saja?. Apakah AKU tidak lebih dari sebuah penerbangan dan awak pesawat sehingga kamu lebih mementingkan mematuhi mereka ketimbang menghormati KU?".

Saya tidak menunggu lama... saya ambil handphone dari saku celana saya, saya sms calon istri saya, saya kabarin dia, jika saya OFFLINE selama ibadah berlangsung dan akan ONLINE lagi setelah ibadah selesai. Singkat cerita, saya OFFLINE handphone saya ke menu Flight Mode (karena Alkitab saya ada di Handphone). Hari itu saya ibadah dengan air mata yang menggenang di mata saya. Saya minta ampun ke TUHAN, selama ini saya tidak sadar bahwa secara tidak langsung saya 'merendahkan' TUHAN lebih rendah dari sebuah penerbangan.

Mari kita jujur saja, jika handphone kita tetap menyala dalam ibadah, meskipun dalam menu Vibrate/getar. Perhatian dan konsentrasi kita terusik dengan adanya SMS yang masuk, atau telepon yang masuk, bahkan saya juga kerap menemui, malah BER-FACEBOOK ria selama firman Tuhan.

Kembali lagi seperti apa yg dikatakan dalam Firman TUHAN, ALLAH kita adalah ALLAH yg cemburu. dalam artian ALLAH kita tidak ingin ada yang 'menyaingi' keberadaanya.

Secara logika saja, mungkin anda lebih takut terhadap sanksi yang diberikan oleh manusia (kelihatan), dari pada sanksi dari TUHAN (yang 'belum' kelihatan).

Jika kita bertemu dengan Bapak Presiden, mungkin kita akan menghadap dengan kondisi kita yang terbaik. Berpakaian paling rapi, menggunakan parfum yang terbaik, make up atau menyisir rambut kita dengan sangat rapi, dan bertatap muka dengan penuh perhatian terhadap apa yang dikatakan bapak Presiden. Dan sangatlah tidak mungkin saat kita bertemu Presiden, kita berani angkat telepon atau ber sms ria, apalagi bermain facebook di hadapan beliau, sementara beliau berbicara kepada kita. Betul???? Jika berani pasti anda akan ditendang oleh PASPAMPRES keluar dari Istana Negara dalam waktu singkat.

TUHAN lebih tinggi dari jabatan seorang Presiden. TUHAN adalah Pencipta kita. Sudah selayaknya TUHAN mendapat tempat dan perlakuan tertinggi dalam kehidupan kita.

TUHAN hanya minta matikan handphone sesaat saja dalam ibadah. Hanya untuk berkonsentrasi pada NYA, dan 'mendengarkan' apa yang TUHAN inginkan dalam kehidupan kita.

Saya baru tersadar, saat kita beribadah, kita itu sebetulnya melaksanakan 'TAKE OFF' untuk menikmati 'penerbangan' sesaat bersama TUHAN yang menjadi Pilot (PIC) kita. Dan kita pasti aman bersamaNYA. Kita harus mematikan handphone dan menyelaraskan tubuh, jiwa dan roh kita hanya kepada TUHAN. Ada saatnya ibadah baru berakhir, itulah 'LANDING' bersama TUHAN yang manis. Setelah kita menikmati 'penerbangan' terbang sesaat meninggalkan dunia sejenak bersama TUHAN, TUHAN memperlengkapi kita dengan Damai sejahtera, kekuatan baru, serta penghiburan dan berkat berkatNYA, untuk kita kembali menjalankan aktivitas kita di dunia ini. Saat ibadah telah selesai itulah, silahkan menyalakan handphone anda kembali. :)

Mungkin ada dari kita PRO dan KONTRA terhadap apa yang saya tulis di pagi ini. Hal itu sah-sah saja. Tetapi terlepas dari semuanya itu, saya hanya ingin membagikan tentang apa yang saya dapat beberapa saat lalu.

Mari kita bersama-sama mematikan atau meng-offline kan Handphone, PDA, iPhone, Blackberry kita selama ibadah.

Semoga Tulisan ini dapat menjadi berkat...
GBU

=================

Vincent Herdison
Jakarta, 21 April 2010
06:38 WIB (GMT +7)
KETIKA KITA KEHILANGAN

Skenario 1

Andaikan Anda sedang naik di dalam sebuah kereta eko nomi. Karena tidak mendapatkan tempat duduk, Anda berdiri di dalam gerbong tersebut. Suasana cukup ramai meskipun masih ada tempat bagi Anda untuk menggoyang-goyangkan aki. Di tengah perjalanan, Anda dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahu Anda. "Mas. Handphone mas barusan jatuh nih," kata orang tersebut seraya memberikan handphone milik Anda. Apa yang akan Anda lakukan kepada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih dan berlalu begitu saja.

Skenario 2

Sekarang kita beralih kepada skenario kedua. Andaikan Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, dan ada orang yang melihatnya dan memungutnya. Orang itu tahu handphone itu milik Anda tetapi tidak langsung memberikannya kepada Anda. Hingga tiba saatnya Anda akan turun dari kereta. Sesaat sebelum Anda turun dari kereta, orang itu menepuk Anda dan menyodorkan handphone Anda sambil berkata "Mas. Handphone mas barusan jatuh nih." Apa yang akan Anda lakukan kepada orang tersebut? Mungkin Anda akan mengucapkan terima kasih juga kepada orang tersebut, tetapi saya pikir rasa terima kasih yang Anda berikan akan lebih besar daripada rasa terima kasih yang Anda berikan pada orang di skenario pertama (orang yang langsung memberikan handphone itu kepada Anda). Setelah itu mungkin Anda akan langsung turun dari kereta.

Skenario 3

Marilah kita beralih kepada skenario ketiga. Pada skenario ini, Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, hingga Anda menyadari handphone Anda tidak ada di kantong Anda saat Anda sudah turun dari kereta. Anda pun panik dan segera menelepon ke nomor handphone Anda, berharap ada orang baik yang menemukan handphone Anda dan bersedia mengembalikannya kepada Anda. Orang yang sejak tadi menemukan handphone Anda (namun tidak memberikannya kepada Anda) menjawab telepon Anda. "Halo, selamat siang mas. Saya pemilik handphone yang ada pada mas sekarang," kata Anda kepada orang yang sangat Anda harapkan berbaik hati mengembalikan handphone itu kembali kepada Anda. Gayung bersambut, orang yang menemukan handphone Anda berkata, "Oh, ini handphone mas ya. Oke deh, nanti saya akan turun di stasiun berikut. Biar mas ambil di sana nanti ya." Dengan sedikit rasa lega dan penuh harapan, Anda pun pergi ke stasiun berikut dan menemui "orang baik" tersebut. Orang itu pun memberikan handphone Anda yang telah hilang. Apa yang akan Anda lakukan pada orang tersebut? Satu hal yang pasti, Anda akan mengucapkan terima kasih, dan sepe rti nya akan lebih besar daripada rasa terima kasih Anda pada skenario kedua bukan? Bukan tidak mungkin kali ini Anda akan memberikan hadiah kecil kepada orang yang menemukan handphone Anda tersebut.

Skenario 4

Terakhir, mari kita perhatikan skenario keempat. Pada skenario ini, Anda tidak sadar handphone Anda terjatuh, Anda turun dari kereta dan menyadari bahwa handphone Anda telah hilang, Anda mencoba menelepon tetapi tidak ada yang mengangkat. Sampai akhirnya Anda tiba di rumah. Malam harinya, Anda mencoba mengirimkan SMS: "Bapak/Ibu yang budiman. Saya adalah pemilik handphone yang ada pada bapak/ibu sekarang. Saya sangat mengharapkan kebaikan hati bapak/ibu untuk dapat mengembalikan handphone itu kepada saya. Saya akan mem berikan imbalan sepantasnya." SMS pun dikirim dan tidak adabalasan. Anda sudah putus asa. Anda kembali mengingat betapa banyaknya data penting yang ada di dalam handphone Anda. Ada begitu banyak nomor telepon teman Anda yang ikut hilang bersamanya. Hingga akhirnya beberapa hari kemudian, orang yang menemukan handphone Anda menjawab SMS Anda, dan mengajak ketemuan untuk mengembalikan handphone tersebut. Bagaimana kira-kira perasaan Anda? Tentunya Anda akan sangat senang dan segera pergi ke tempat yang diberikan oleh orang itu. Anda pun sampai di sana dan orang itu mengembalikan handphone Anda. Apa yang akan Anda berikan kepada orang tersebut? Anda pasti akan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepadanya, dan mungkin Anda akan memberikannya hadiah (yang kemungkinan besar lebih berharga dibandingkan hadiah yang mungkin Anda berikan di skenario ketiga).

Moral

Apa yang Anda dapatkan dari empat skenario cerita di atas? Pada keempat skenario tersebut, Anda sama-sama kehilangan handphone, dan ada orang yang menemukannya. Orang pertama menemukannya dan langsung mengembalikannya kepada Anda. Anda berikan dia ucapan terima kasih. Orang kedua menemukannya dan memberikan kepada Anda sesaat sebelum Anda turun dari kereta. Anda berikan dia ucapan terima kasih yang lebih besar. Orang ketiga menemukannya dan memberikan kepada Anda setelah Anda turun dari kereta. Anda berikan dia ucapan terima kasih ditambah dengan sedikit hadiah. Orang keempat menemukannya, menyimpannya selama beberapa hari, setelah itu baru mengembalikannya kepada Anda. Anda berikan dia ucapan terima kasih ditambah hadiah yang lebih besar.

Ada sebuah hal yang aneh di sini. Cobalah pikirkan, di antara keempat orang di atas, siapakah yang paling baik? Tentunya orang yang menemukannya dan langsung memberikannya kepada Anda, bukan? Dia adalah orang pada skenario pertama. Namun ironisnya, dialah yang mendapatkan reward paling sedikit di antara empat orang di atas.

Manakah orang yang paling tidak baik? Tentunya orang pada skenario keempat, karena dia telah membuat Anda menunggu beberapa hari dan mungkin saja memanfaatkan handphone Anda tersebut selama itu. Namun, ternyata dia adalah orang yang akan Anda berikan reward paling besar.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Anda memberikan reward kepada keempat orang tersebut secara tulus, tetapi orang yang seharusnya lebih baik dan lebih pantas mendapatkan banyak, Anda berikan lebih sedikit.

OK, kenapa bisa begitu? Ini karena rasa kehilangan yang kita alami semakin bertambah di setiap skenario. Pada skenario pertama, kita belum berasa kehilangan karena kita belum sadar handphone kita jatuh, dan kita telah mendapatkannya kembali. Pada skenario kedua, kita juga belum merasakan kehilangan karena saat itu kita belum sadar, tetapi kita membayangkan rasa kehilangan yang mungkin akan kita alami seandainya saat itu kita sudah turun dari kereta. Pada skenario ketiga, Anda sempat merasakan kehilangan, namun tidak lama Anda mendapatkan kelegaan dan harapan Anda akan mendapatkan handphone Anda kembali. Pada skenario keempat, Anda sangat merasakan kehilangan itu. Anda mungkin berpikir untuk memberikan sesuatu yang besar kepada orang yang menemukan handphone Anda, asalkan handphone itu bisa kembali kepada Anda. Rasa kehilangan yang bertambah menyebabkan Anda semakin menghargai handphone yang Anda miliki.

Saat ini, adakah sesuatu yang kurang Anda syukuri? Apakah itu berupa rumah, handphone, teman-teman, kesempatan berkuliah, kesempatan bekerja, atau suatu hal lain. Ada satu cara yang benar-benar ampuh yang bisa dilakukan Tuhan untuk membuat kita mensyukuri sesuatu yang mungkin kita anggap biasa itu. Bagaimana? Dengan mengambilnya dari kita, hingga kita merasakan kehilangan. Saat itulah, kita akan mensyukuri segala sesuatu yang telah hilang tersebut.

Namun, apakah kita perlu merasakan kehilangan itu agar kita dapat bersyukur? Saya rasa sebaiknya tidak. Syukurilah segala yang kita miliki, termasuk hidup kita, selagi itu masih ada. Jangan sampai kita menyesali karena tidak bersyukur ketika itu telah diambil dari kita.

Kamis, 09 Juli 2009

MENJUAL SISIR PADA BIKSU

Pertanyaan :

Jika perusahaan dimana anda bekerja, adalah sebuah perusahaan pembuat SISIR, memberi tugas untuk menjual sisir pada para biksu di wihara (yang semua kepalanya gundul) -- Bisakah anda melakukannya? Apa jawaban anda ?

a) Tidak mungkin, itu mustahil
b) Gile
c) Aku akan sekali mencoba untuk melaksanakan instruksi bos saya
d) Baiklah, saya akan coba
e) Ya, saya pikir bisa menjualnya (5 buah, 10 buah, 50 buah atau lebih, sebutkanlah jumlahnya)

Pilih satu jawaban dan baca tulisan di bawah untuk meilhat apakah anda termasuk orang yang berjiwa sukses atau tidak.


Cerita : MENJUAL SISIR PADA BIKSU

Ada sebuah perusahaan "pembuat sisir" yang ingin mengembangkan bisnisnya, sehingga management ingin merekrut seorang sales manager yang baru.

Perusahaan itu memasang IKLAN pada surat kabar. Tiap hari banyak orang yang datang mengikuti wawancara yang diadakan ... jika ditotal jumlahnya hampir seratus orang hanya dalam beberapa hari.

Kini, perusahaan itu menghadapi masalah untuk menemukan calon yang tepat di posisi tersebut. Sehingga si pewawancara membuat sebuah tugas yang sangat sulit untuk setiap orang yang akan mengikuti wawancara terakhir.

Tugasnya adalah : Menjual sisir pada para biksu di wihara.
Hanya ada 3 calon yang bertahan untuk mencoba tantangan di wawancara terakhir ini. (Mr. A, Mr. B, Mr. C)

Pimpinan pewawancara memberi tugas :
"Sekarang saya ingin anda bertiga menjual sisir dari kayu ini kepada para biksu di wihara. Anda semua hanya diberi waktu 10 hari dan harus kembali untuk memberikan laporan setelah itu."

Setelah 10 hari, mereka memberikan laporan.

Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. A :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"
Mr. A menjawab: "Hanya SATU."
Si pewawancara bertanya lagi : "Bagaimana caranya anda menjual?"
Mr. A menjawab:
"Para biksu di wihara itu marah-marah saat saya menunjukkan sisir pada mereka. Tapi saat saya berjalan menuruni bukit, saya berjumpa dengan seorang biksu muda - dan dia membeli sisir itu untuk menggaruk kepalanya yang ketombean."

Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. B :
"Berapa banyak yang sudah anda jual?"
Mr. B menjawab : "SEPULUH buah."
"Saya pergi ke sebuah wihara dan memperhatikan banyak peziarah yang rambutnya acak-acakan karena angin kencang yang bertiup di luar wihara. Biksu di dalam wihara itu mendengar saran saya dan membeli 10 sisir untuk para peziarah agar mereka menunjukkan rasa hormat pada sang Buddha."

Kemudian, Pimpinan pewawancara bertanya pada Mr. C :
"Bagaimana dengan anda?"
Mr. C menjawab: "SERIBU buah!"
Si pewawancara dan dua orang pelamar yang lain terheran-heran.
Si pewawancara bertanya : "Bagaimana anda bisa melakukan hal itu?"
Mr. C menjawab:
"Saya pergi ke sebuah wihara terkenal. Setelah melakukan pengamatan beberapa hari, saya menemukan bahwa banyak turis yang datang berkunjung ke sana. Kemudian saya berkata pada biksu pimpinan wihara, 'Sifu, saya melihat banyak peziarah yang datang ke sini. Jika sifu bisa memberi mereka sebuah cindera mata, maka itu akan lebih menggembirakan hati mereka.' Saya bilang padanya bahwa saya punya banyak sisir dan memintanya untuk membubuhkan tanda tangan pada setiap sisir sebagai sebuah hadiah bagi para peziarah di wihara itu. Biksu pimpinan wihara itu sangat senang dan langsung memesan 1,000 buah sisir!"

MORAL DARI CERITA

Dalai Lama biasa berkata : "Jika anda hanya punya sebuah pelayaran yang lancar dalam hidup, maka anda akan lemah. Lingkungan yang keras membantu untuk membentuk pribadi anda, sehingga anda memiliki nyali untuk menyelesaikan semua masalah."

"Anda mungkin bertanya mengapa kita selalu berpegang teguh pada harapan. Ini karena harapan adalah : hal yang membuat kita bisa terus melangkah dengan mantap, berdiri teguh - dimana pengharapan hanyalah sebuah awal. Sedangkan segala sesuatu yang tidak diharapkan .... adalah hal yang akan mengubah hidup kita."
Meredith Grey, Grey's Anatomy - Season 3

Ingatlah, saat keadaan ekonomi baik, banyak orang jatuh bangkrut. Tapi saat keadaan ekonomi buruk, banyak jutawan baru baru yang bermunculan.

Kamis, 26 Februari 2009

RAHASIA SI UNTUNG

Kita semua pasti kenal tokoh si Untung di komik Donal Bebek. Berlawanan dengan Donal yang selalu sial. Si Untung ini dikisahkan untung terus. Ada saja keberuntungan yang selalu menghampiri tokoh bebek yang di Amerika bernama asli Gladstone ini. Betapa enaknya hidup si Untung. Pemalas, tidak pernah bekerja, tapi selalu lebih untung dari Donal. Jika Untung dan Donal berjalan bersama, yang tiba-tiba menemukan sekeping uang dijalan, pastilah itu si Untung. Jika Anda juga ingin selalu beruntung seperti si Untung, dont worry, ternyata beruntung itu ada ilmunya.

Professor Richard Wiseman dari University of Hertfordshire Inggris, mencoba meneliti hal-hal yang membedakan orang2 beruntung dengan yang sial. Wiseman merekrut sekelompok orang yang merasa hidupnya selalu untung, dan sekelompok lain yang hidupnya selalu sial. Memang kesan nya seperti main-main, bagaimana mungkin keberuntungan bisa diteliti. Namun ternyata memang orang yang beruntung bertindak berbeda dengan mereka yang sial.

Misalnya, dalam salah satu penelitian the Luck Project ini, Wiseman memberikan tugas untuk menghitung berapa jumlah foto dalam koran yang dibagikan kepada dua kelompok tadi. Orang2 dari kelompok sial memerlukan waktu rata-rata 2 menit untuk menyelesaikan tugas ini. Sementara mereka dari kelompok si Untung hanya perlu beberapa detik saja! Lho kok bisa?

Ya, karena sebelumnya pada halaman ke dua Wiseman telah meletakkan tulisan yang tidak kecil berbunyi “berhenti menghitung sekarang! ada 43 gambar di koran ini”. Kelompol sial melewatkan tulisan ini ketika asyik menghitung gambar. Bahkan, lebih iseng lagi, di tengah2 koran, Wiseman menaruh pesan lain yang bunyinya: “berhenti menghitung sekarang dan bilang ke peneliti Anda menemukan ini, dan menangkan $250!” Lagi-lagi kelompok sial melewatkan pesan tadi! Memang benar2 sial.

Singkatnya, dari penelitian yang diklaimnya “scientific” ini, Wiseman menemukan 4 faktor yang membedakan mereka yang beruntung dari yang sial:

1. Sikap terhadap peluang.
Orang beruntung ternyata memang lebih terbuka terhadap peluang. Mereka lebih peka terhadap adanya peluang, pandai menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Bagaimana hal ini dimungkinkan?
Ternyata orang-orang yg beruntung memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap pengalaman-pengalam an baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi dengan orang-orang yang baru dikenal, dan menciptakan jaringan-jaringan sosial baru. Orang yang sial lebih tegang sehingga tertutup terhadap kemungkinan- kemungkinan baru.

Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko permata nya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!” Hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber berpikir lain. Ia berpikir jika pria di sebelahnya ternyata adalah Warren Buffet, salah seorang investor terbesar di Amerika, maka dia berpeluang menawarkan jaringan toko permata nya. Maka Helzberg segera menyapa pria di sebelahnya, dan betul ternyata dia adalah Warren Buffet. Perkenalan pun terjadi dan Helzberg yang sebelumnya sama sekali tidak mengenal Warren Buffet, berhasil menawarkan bisnisnya secara langsung kepada Buffet, face to face. Setahun kemudian Buffet setuju membeli jaringan toko permata milik Helzberg. Betul-betul beruntung.

2. Menggunakan intuisi dalam membuat keputusan.
Orang yang beruntung ternyata lebih mengandalkan intuisi daripada logika. Keputusan-keputusan penting yang dilakukan oleh orang beruntung ternyata sebagian besar dilakukan atas dasar bisikan “hati nurani” (intuisi) daripada hasil otak-atik angka yang canggih. Angka-angka akan sangat membantu, tapi final decision umumnya dari “gut feeling”. Yang barangkali sulit bagi orang yang sial adalah, bisikan hati nurani tadi akan sulit kita dengar jika otak kita pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya orang beruntung umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering digunakan, intuisi kita juga akan semakin tajam.

Banyak teman saya yang bertanya, “mendengarkan intuisi” itu bagaimana? Apakah tiba2 ada suara yang terdengar menyuruh kita melakukan sesuatu? Wah, kalau pengalaman saya tidak seperti itu. Malah kalau tiba2 mendengar suara yg tidak ketahuan sumbernya, bisa2 saya jatuh pingsan.

Karena ini subyektif, mungkin saja ada orang yang beneran denger suara.

Tapi kalau pengalaman saya, sesungguhnya intuisi itu sering muncul dalam berbagai bentuk, misalnya:
- Isyarat dari badan. Anda pasti sering mengalami. “Gue kok tiba2 deg-deg an ya, mau dapet rejeki kali”, semacam itu. Badan kita sesungguhnya sering memberi isyarat2 tertentu yang harus Anda maknakan. Misalnya Anda kok tiba2 meriang kalau mau dapet deal gede, ya diwaspadai saja kalau tiba2 meriang lagi.
- Isyarat dari perasaan. Tiba-tiba saja Anda merasakan sesuatu yang lain ketika sedang melihat atau melakukan sesuatu. Ini yang pernah saya alami. Contohnya, waktu saya masih kuliah, saya suka merasa tiba-tiba excited setiap kali melintasi kantor perusahaan tertentu. Beberapa tahun kemudian saya ternyata bekerja di kantor tersebut. Ini masih terjadi untuk beberapa hal lain.

3. Selalu berharap kebaikan akan datang.
Orang yang beruntung ternyata selalu ge-er terhadap kehidupan. Selalu berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang kepadanya. Dengan sikap mental yang demikian, mereka lebih tahan terhadap ujian yang menimpa mereka, dan akan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja Anda lakukan tes sendiri secara sederhana, tanya orang sukses yang Anda kenal, bagaimana prospek bisnis kedepan. Pasti mereka akan menceritakan optimisme dan harapan.

4. Mengubah hal yang buruk menjadi baik.
Orang-orang beruntung sangat pandai menghadapi situasi buruk dan merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan reaksi mereka. Reaksi orang dari kelompok sial umunya adalah: “wah sial bener ada di tengah2 perampokan begitu”. Sementara reaksi orang beruntung, misalnya adalah: “untung saya ada disana, saya bisa menuliskan pengalaman saya untuk media dan dapet duit”. Apapun situasinya orang yg beruntung pokoknya untung terus. Mereka dengan cepat mampu beradaptasi dengan situasi buruk dan merubahnya menjadi keberuntungan.

Sekolah Keberuntungan.
Bagi mereka yang kurang beruntung, Prof Wiseman bahkan membuka Luck School. Latihan yang diberikan Wiseman untuk orang2 semacam itu adalah dengan membuat “Luck Diary”, buku harian keberuntungan. Setiap hari, peserta harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.

Mereka dilarang keras menuliskan kesialan mereka. Awalnya mungkin sulit, tapi begitu mereka bisa menuliskan satu keberuntungan, besok-besoknya akan semakin mudah dan semakin banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.

Dan ketika mereka melihat beberapa hari kebelakang Lucky Diary mereka, mereka semakin sadar betapa beruntungnya mereka. Dan sesuai prinsip “law of attraction”, semakin mereka memikirkan betapa mereka beruntung, maka semakin banyak lagi lucky events yang datang pada hidup mereka.

Jadi, sesederhana itu rahasia si Untung. Ternyata semua orang juga bisa beruntung.
Siap mulai menjadi si Untung?
Kampung Duka Vs Kampung Suka

(Cerita ini diilhami oleh sebuah buku yang bertutur tentang hal yang sama, disajikan kembali dengan versi yang berbeda oleh penulis)

Suatu saat, Tuhan membentuk sekumpulan makhluk baru, species baru ini merupakan turunan dari Homo Sapiens (manusia jaman sekarang), yang membedakannya dengan postur kita saat ini adalah bahwa mulut dari makhluk ini tidak terletak di depan, tapi di belakang kepalanya.

Lalu, Tuhan meletakkan makhluk ciptaanNya itu ke dalam sebuah perkampungan dengan kakayaan alam yang berlimpah, dan membiarkan mereka beranak-pinak di sana. Dan setelahnya, alam mulai bekerjasama dengan waktu membentuk ekosistemnya.

Melalui Seleksi alam (natural Selection) yang memakan waktu yang cukup panjang akhirnya terbentuk dua kelompok utama yang menempati dua daerah yang berbeda. Kelompok pertama menamakan dirinya Kampung Duka, dan kelompok yang lain menamakan dirinya Kampung Suka.

Kampung Duka
Sesuai dengan namanya, penduduk di sana merasa hidupnya selalu dirundung duka, wajah sedih menjadi hiasan keseharian dari penduduk di sana, ditambah dengan tubuhnya yang kurus seperti kekurangan makanan, padahal kekayaan alam Kampung Duka berlimpah ruah.

Kampung Suka
Walau dilahirkan dari species yang sama, dari keturunan yang sama, bahkan dengan kekayaan alam yang lebih minim jika dibandingkan dengan Kampung Duka, anehnya penduduk Kampung Suka selalu tampak bahagia, wajah ceriah menjadi hiasan keseharian penduduk di sana. Mereka tampak gemuk-gemuk dan sehat. Di hampir setiap sudut pemukiman tersebut ditemukan cermin-cermin besar yang ditata dengan rapi dan apik.

Suatu saat, Sang Malaikat penjaga Kampung itu datang mencari tahu apa yang sebenarnya yang terjadi dengan species baru itu, bagaimana kedua kampung itu terbentuk dan kenapa kampung-kampung itu terbentuk? padahal ketika Tuhan menciptakan species itu, Tuhan tidak pernah membeda-bedakan, Tuhan menciptakan satu makhluk yang sama di lingkungan yang sama, pada waktu yang sama.

Di Kampung Duka
Penduduk kampung itu segera berkumpul ketika mengetahui Malaikat mereka datang, mereka tanpa dikomandani mulai menyampaikan keluhan-keluhan mereka, mereka mengatakan bahwa Tuhan tidak adil, karena memberikan banyak kekayaan alam tapi mulut mereka di belakang kepala, sehingga untuk makan saja mereka mengalami banyak kesulitan ( pandangan mata mereka tak dapat menjangkaunya), tak mengherankan jika mereka kurus-kurus. Mereka terus mengeluh tentang tanah yang terlalu keras, matahari yang terlalu terik, hujan yang begitu deras, bahkan tanaman yang terlalu lama berbuah juga menjadi salah satu keluhan mereka.

Di Kampung Suka
Penduduk kampung itu juga segera berkumpul ketika mengetahui sang Malaikat mereka datang, mereka menyambut sang Malaikat dengan suka cita, dengan rasa syukur. Mereka mengucapkan terima kasih atas apa yang diberikan Tuhan pada mereka. Walau dengan mulut yang terletak di belakang kepala, mereka yakin Tuhan punya rencana indah untuk mereka. Ternyata benar, dengan keadaan itu, mereka bisa bekerjasama, saling menyuapi satu sama lain. Waktu makan menjadi moment yang indah karena kebersamaan. Walau dengan kondisi alam yang minim kekayaannya, mereka hidup dengan sejahtera dan sehat, mereka tak pernah mengeluh, tapi mencari solusi untuk menyelesaikan problem yang ada.

Banyaknya cermin di hampir setiap sudut kampung mejadi salah satu contoh cara mereka mengatasi kendala yang ada. (Katanya itu digunakan kalau sewaktu-waktu berada dalam kesendirian)

Setelah mengunjungi kedua Kampung itu, Sang Malaikat itu kembali menemui Tuhan, ia melaporkan bahwa semua itu terjadi karena “PILIHAN” mereka sendiri.

Lalu saya kembali teringat dengan tempat parkir mobil di kompleks perumahan kami (yang sebenarnya adalah jalan akses kompleks tersebut), ukuran jalan tersebut hanya sekitar 6 meter, hanya cukup untuk dua mobil saling berselisihan, di sebelah kiri dan kanan jalan itu adalah rumah kami tanpa pekarangan, jadi bisa dipastikan jika setiap rumah memiliki mobil, maka jalan tersebut segera penuh dengan deretan roda empat itu. (sayangnya, kenyataannya adalah demikian, sehingga sering kali kami harus meminta pemilik mobil untuk mengeser mobilnya untuk mengeluarkan mobil yang kebetulan berada di dalam jalan buntu tersebut bahkan lebih sering harus mendorongnya sendiri). Dan kenyataan ini membuat benturan sering terjadi, percecokan pagi sering tak terhindari.

Pada gilirannya, saya juga menghadapi masalah yang sama (karena memang tinggal di kompeks yang sama), hanya saja, saya memilih untuk menikmatinya, mendorong maju mundur roda empat yang ada, seperti main sebuah puzzle yang memakan waktu lebih dari lima belas menit, tapi itu adalah kenyataan yang harus dihadapi sebelum saya pindah dari kompeks tersebut.

Pegangannya sederhana, “Jika kita bisa mengubah keadaan, maka ubahlah keadaan itu sesuai keinginan kita. Jika tidak, maka terimalah keadaan tersebut, cari solusi untuk membuatnya nyaman”
Saya bisa saja memilih untuk marah karena jalan keluar mobil saya harus terbendung, tapi tidak saya lakukan, karena hal ini akan saya hadapi setiap hari sebelum saya melangkah keluar dari kompeks tersebut, demikian juga semua tetangga kami itu.

Saya memilih untuk tinggal di Kampung Suka, karena pada dasarnya kami semua menghadapi hal yang sama, kita juga dibakar terik matahari yang sama, hanya pilihan kita yang mungkin berbeda.
Dan saya memilihnya sebagai olah raga di pagi hari, di antara belantara Kampung Suka.
Bagaimana dengan Anda?

Selasa, 13 Januari 2009

Katak Dan Hujan

Ada kegundahan tersendiri yang dirasakan seekor anak katak ketika langit tiba-tiba gelap. "Bu, apa kita akan binasa. Kenapa langit tiba-tiba gelap?" ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya. Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut.

"Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik." jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.

Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba angin bertiup kencang. Daun dan tangkai kering yang berserakan mulai berterbangan. Pepohonan meliuk-liuk dipermainkan angin. Lagi-lagi, suatu pemandangan menakutkan buat si katak kecil. "Ibu, itu apa lagi? Apa itu yang kita tunggu-tunggu? " tanya si anak katak sambil bersembunyi di balik tubuh induknya.

"Anakku. Itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. "Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu menenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.

"Blarrr!!!" suara petir menyambar-nyambar. Kilatan cahaya putih pun kian menjadikan suasana begitu menakutkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. "Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!" ucapnya sambil terus memejamkan mata.

"Sabar, anakku!" ucapnya sambil terus membelai. "Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! Keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang," ungkap sang induk katak begitu tenang.

Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan. Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang. Hujan datang! Horeeee!"

Anugrah hidup kadang tampil melalui rute yang tidak diinginkan. Ia tidak datang diiringi dengan tiupan seruling merdu. Tidak diantar oleh dayang-dayang nan rupawan. Tidak disegarkan dengan wewangian harum.

Saat itulah, tidak sedikit manusia yang akhirnya dipermainkan keadaan. Persis seperti anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan.

Benar apa yang diucapkan induk katak: jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan hadapi. Karena hujan yang ditunggu, pasti akan datang. Bersama kesukaran ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesukaran ada kemudahan.